BAB 2 MAPEL BISNIS RITEL
BAB 2 MANAJEMEN BISNIS RITEL
Kompetensi dasar
3.2 Menganalisis manajemen bisnis ritel
4.2. Melakukan manajemen bisnis ritel
Tujuan pembelajaran
Setelah mempelajari bab ini peserta didik mampu:
1. Mengidentifikasi manajemen bisnis ritel
2. Menganalisis manajemen bisnis ritel
3. Melakukan manajemen bisnis ritel
A. Pengertian
Manajemen Ritel
1.
Pengertian Manajemen
Apa yang dimaksud
dengan manajemen? Pengertian Manajemen adalah sebuah proses untuk mengatur
sesuatu yang dilakukan oleh sekelompok orang atau organisasi untuk mencapai
tujuan organisasi tersebut dengan cara bekerja sama memanfaatkan sumber daya
yang dimiliki.
Secara etimologi
kata manajemen diambil dari bahasa Perancis kuno, yaitu menagement, yang artinya adalah seni dalam mengatur dan
melaksanakan. Manajemen dapat juga didefinisikan sebagai upaya perencanaan,
pengoordinasian, pengorganisasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai
sasaran secara efisien dan efektif. Efektif dalam hal ini adalah untuk mencapai
tujuan sesuai
perencanaan dan efisien untuk melaksanakan pekerjaan
dengan benar dan teroganisir. Menurut T. Hani Handoko, ada tiga alasan utama
mengapa manajemen diperlukan: a.
Manajemen
diperlukan agar tujuan pribadi dan organisasi dapat tercapai.
b. Manajemen
juga diperlukan untuk menjaga keseimbangan antara tujuan-tujuan, sasaran, dan
kegiatan, yang saling bertentangan dari pihak yang punya kepentingan dalam
organisasi.
c. Manajemen
dibutuhkan untuk mencapai efisiensi dan efektivitas suatu kerja organisasi.
d. Sebuah
organisasi yang sedang berkembang membutuhkan manajemen dalam beberapa hal;
mencakup manajemen strategi, manajemen sumber daya manusia, produksi,
pemasaran, dan manajemen lainnya.
2.
Pengertian Ritel
Berikut ini adalah definisi dari ritel menurut
Berman dan Evans
(2001:3) “retail
consists of the business activities involved in selling goods and
services to consumers for their personal, family, or household use” yang bisa
diartikan bahwa ritel
merupakan kegiatan bisnis
yang terlibat dalam penjualan barang maupun jasa kepada konsumen untuk
kebutuhan pribadi, kebutuhan keluarga, atau kebutuhan rumah tangga. Sedangkan
menurut kamus, ritel adalah penjualan barang atau jasa kepada khalayak (Manser,
1995). Jadi bisnis ritel adalah kegiatan penjualan barang dan jasa antara
pedagang dan konsumen di mana di dalamnya terdapat akttivitas-aktivitas yang
saling mendukung dan memengaruhi.
3.
Pengertian
Manajemen Ritel
Setelah mengetahui definisi dari manajemen dan
retail maka bisa disimpulkan bahwa manajemen retail adalah pengaturan
keseluruhan faktor-faktor yang berpengaruh dalam perdagangan retail, yaitu
perdagangan langsung barang dan jasa kepada konsumen. Faktor-faktor yang
berpengaruh dalam bisnis retail adalah place,
price, product, dan promotion yang
dikenal sebagai 4P.
B. Pengelompokan Bisnis Ritel
1.
Tipe Retailer
Konsumen sekarang
ini sangat manja, oleh karena itu mereka dapat dilayani oleh berbagai tipe toko
eceran dengan berbagai persediaan aneka macam barang, untuk memenuhi berbagai
kebutuhan dan keinginan (needs and wants).
Toko eceran tumbuh sangat cepat dalam bentuk store retailers, nonstore retails, dan retail organization. Berikut akan dijelaskan secara lebih detail:
a. Store retails, berumbuh
pesat seperti Specialty Store,
Departement Store, Supermarket, Convenience Store, Discount Store, Off-Price
Retailer (Factory Outlets, Independent off-price retailers, Warehouse
club/wholesale clubs), Superstore, Catalog Showroom.
b. Nonstore retailing. Ada empat macam yaitu:
1)
Direct
selling merupakan penjualan dari pintu ke pintu.
Penjualan di tempat pertemuan misalnya ibu-ibu arisan, perkantoran, dan sebagainya.
Ada beberapa bentuk direct selling yaitu:
one-to-one selling, yaitu mengarahkan
penjualannya ke satu pembeli potensial, dan one-to-many/party
selling, yaitu
seorang wiraniaga mengunjungi suatu kelompok calon
konsumen seperti arisan ibu-ibu atau tempat pesta, bahkan di perkantoran
kemudian merekomendasikan produk tertentu, lalu menerima pesanan.
2)
Direct
marketing ini berasal dari kegiatan direct mail dan penyebaran
katalog, termasuk ke dalamnya kegiatan telemarketing dengan
menggunakan media televisi dan electronic
shopping melalui internet.
3)
Automatic
vending, digunakan untuk menjual barang-barang yang
dibeli secara impulse atau emotional buying motive, seperti rokok,
permen, koran, soft drink, dan lain
sebagainya. Mesin bekerja 24 jam sehari.
4)
Buying
services. Usaha ini tidak memiliki toko dan melayani
anggota layanan khusus, seperti karyawan sebuah perkantoran serta kelompok
lainnya yang membeli dan mendapat diskon.
c. Retail organizations. Walaupun
kebanyakan toko eceran ini milik perorangan yang mandiri, namun bertumbuh pula
toko eceran yang dikelola oleh organisasi perusahaan. Perusahaan toko eceran
ini memperoleh berbagai keuntungan secara ekonomis, daya belinya kuat, tenaga
pelayanannya cukup terlatih. Bentuk utama dari corporate retailing ini ialah chain
stores, voluntary chain stores, retailer cooperatives, waralaba, dan sebagainya.
2.
Jenis-Jenis
Bisnis Ritel
Sektor ritel adalah
salah satu segmen dengan tingkat pertumbuhan paling cepat di banyak negara
termasuk Indonesia. Sebagian besar peritel meliputi penjualan barang atau jasa
dari pihak pembuat, penjualan grosir/partai besar, agen, importir, atau peritel
lainnya dan penjualannya kepada konsumen untuk penggunaan pribadi. Berikut ini
bisnis ritel:
a. Ritel toko
Situasi ritel masa
kini terdiri dari berbagai macam toko independen, pusat perbelanjaan,
perusahaan diskon, toko pengecer yang menawarkan kenyamanan berbelanja,
jaringan peritel nasional maupun internasional, supermarket konvensional, dan
perusahaan-perusahaan lain dengan skala yang lebih besar. Semua ini tampak
mendominasi sektor ritel. Peritel toko beroperasi di lokasi- lokasi penjualan
yang didesain untuk menarik konsumen dalam jumlah yang cukup besar agar mau
berkunjung ke toko mereka. Pada umumnya toko-toko memamerkan barang jualan secara
maksimal dan menggunakan iklan di banyak media massa untuk menarik sebanyak
mungkin konsumen. Mereka ini biasanya menjual barang dagangan kepada masyarakat
umum atau konsumen rumah tangga tetap sebagian juga melayani klien institusi
dan bisnis. Ini meliputi bangunan-bangunan seperti toko-toko alat tulis kantor,
toko komputer dan software, dealer
bahan bangunan, seperti usaha ledeng dan sebagainya.
b. Ritel khusus
Sementara peritel
raksasa seperti Wal-Mart atau Carrefour cenderung untuk menjual barang-barang kebutuhan
pokok, para peritel ini cenderung menjual barangbarang sekunder atau tersier.
Mereka berfokus pada peningkatan kenyamanan lingkungan rumah tangga, kekayaan
pengalaman dalam berbelanja, dan inventaris yang memenuhi kebutuhan pelanggan
yang menjadi target dengan frekuensi yang bisa disesuaikan.
Banyak toko bisa dimiliki dan dijalankan oleh satu orang
dengan bantuan yang seadanya. Dibandingkan dengan pengoperasian manufaktur,
bisnis ritel khusus relatif lebih mudah dibangun pada awalnya baik secara
keuangan dan pengelolaan. Namun usaha yang buruk dan analisis pasar yang tidak
memadai.
c. Peritel nontoko
Bisnis-bisnis ini
sebagian besar berkaitan dengan penjualan ritel produk melalui TV, belanja
elektronik, kertas dan katalog elektronik, pengundangan dari pintu ke pintu,
demonstrasi dalam rumah, kios portabel, mesin pengecer, dan sebagainya. Dengan
penjualan eceran di tepi jalan sebagai pengecualian, bisnis-bisnis ini tidak
biasanya mempertahankan saham untuk dijual dengan premis. Ada begitu banyak manfaat
yang bisa dituai dari ritel ini.
d. Pemesanan via
pos
Dari buku hingga
brosur dasar, katalog sudah banyak dikenal bagi mereka yang tinggal jauh dari
keramaian pusat perbelanjaan. Katalog juga akrab bagi para manula. Mereka yang suka barang/jasa yang tidak dijual
bebas atau memiliki spesifikasi yang kurang lazim, dan bagi orang-orang yang
kurang suka berbelanja berdesakan. Dengan pemesanan via pos, katalog berisi
barang yang dijual bisa dikirimkan ke ribuan pembeli potensial pada satu waktu
untuk menaikkan angka penjualan atau penghasilan konsumen yang riil. Perusahaan
pemesanan via pos termasuk bisnis barang jualan, perusahaan yang menjual
barang-barang khusus dengan banyak variasi, perusahaan yang menjual benda-benda
baru, berbagai jenis klub (CD, DVD, buku), dan
sebagainya.
e.
Internet
Internet sudah
mengubah kondisi industri ritel masa kini, menghubungkan perusahaan dengan
perusahaan lain dan pasar lain, serta pelanggan individu. Peritel yang tidak
memahami dampak internet pada tokonya dan saluran katalognya berpeluang untuk
meremehkan investasi di internet.
f.
Mesin
Pengecer otomatis.
Mesin pengecer
otomatis telah menjadi konsep bisnis yang terbukti ampuh selama lebih dari satu
abad. Di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, kudapan dan soda meraup
angka penjualan lebih dari 20 miliar dollar di tahun 1999.
Jika dirinci, dari keenam jenis ritel di atas
maka dapat diklasifikasikan empat jenis bisnis ritel, yaitu: 1) berdasarkan
kepemilikan bisnis, 2) berdasarkan kategori barang dagangan, 3) berdasarkan
luas area penjualan, dan 4) berdasarkan peritel tanpa toko. Keempat klasifikasi
tersebut akan dijelaskan pada pembahasan berikutnya.
C. Klasifikasi Bisnis Ritel
Bisnis
ritel, dapat diklasifikasikan menjadi empat bagian, yaitu sebagai berikut:
1.
Ritel berdasarkan kepemilikan bisnis
a. Toko
waralaba atau franchise store adalah
toko ritel yang dibangun berdasarkan kontrak kerja bagi hasil (waralaba) antara pengusaha investor
perseorangan
![]() |
b. Rantai
toko ritel. Jenis ini merupakan toko ritel dengan banyak cabang dan pada
umumnya dimiliki oleh suatu instansi bisnis bukan perorangan, namun dalam
bentuk perseroan. Bentuknya seperti rantai toko minimarket atau mega
hyperstore, misalnya Hero supermarket, Sogo Departement Store &
Supermarket, Matahari Mall, Ramayana Mall, dan
sebagainya.
c. Peritel
toko tunggal (single store retailer)
merupakan jenis bisnis ritel yang paling banyak jumlahnya dengan ukuran toko
umumnya di bawah 100 m², mulai dari kios atau toko di pasar tradisional sampai
minimarket modern dan kepemilikan secara individual.
2.
Ritel berdasarkan kategori barang dagangan
a. Toko
khusus (speciality store) merupakan
toko ritel yang menjual satu jenis barang atau suatu rentang kategori barang
yang relatif sedikit, misalnya apotik, art
shop, toko perhiasan, dan toko buku.
b. Toko
serba ada (grocery store) toko ritel
yang menjual sebagian besar kategori barangnya yaitu barang kebutuhan
sehari-hari, fresh food, ferishable, dry food, beverges, dan
kosmetik.
c. Departement store.
Pada jenis ini sebagian besar assortments
yang dijual merupakan nonbasic items atau
bukan kebutuhan pokok, fashionables,
dan branded items atau bermerek,
dengan lebih dari 80% pola konsinyasi, items
grocery jika dijual hanya sebagai pelengkap, misalnya di Ramayana Mall,
Borobudur, Pasaraya, dan sebagainya.
d. Hyperstore.
Jenis bisnis ritel ini menjual barang-barang dalam rentang kategori barang yang
sangat luas yaitu menjual sebagian besar barang kebutuhan setiap lapisan konsumen,
sehingga sedikitnya membutuhkan luas toko dan area sebesar
10.000
m² dan di Indonesia belum ada seluas ini.
3.
Ritel berdasarkan luas area penjualan
Ada beberapa jenis
ritel berdasarkan luas area penjualan. Di antaranya adalah sebagai berikut:
a. Small store adalah
toko kecil, seperti kios, yang pada umumnya merupakan toko ritel tradisional,
dioperasikan sebagai usaha kecil dengan sales area kurang 100 m².
b.
Minimarket, dioperasikan
dengan luas area antara 100 s.d. 1.000 m².
c.
Supermarket, dioperasikan
dengan luas sales antara 1.000 s.d.
5.000 m².
d.
Hypermarket, dioperasikan
dengan luas sales area lebih dari
5.000 m².
4.
Ritel berdasarkan peritel tanpa toko
Ada
beberapa jenis ritel berdasarkan peritel tanpa toko. Di antaranya adalah
sebagai
berikut:
a. Multilevel marketing,
merupakan suatu model penjualan barang secara langsung dengan sistem komisi
penjualan berperingkat berdasarkan status keanggotaan dalam peringkat distribusi.

b. Mail & phone order ritel,
merupakan perusahaan yang melakukan penjualan berdasarkan pesanan melalui surat
dan atau telepon. Prinsip dari perusahaan ini mengompensasikan overhead cost pengoperasian sebuah toko
(secara fisik) dengan pengoperasian delivery services.
c. Internet/online store/e-commerce,
merupakan suatu model penjualan barang yang melakukan penjualan berdasarkan
pesanan melalui internet.
Itulah keempat
klasifikasi bisnis ritel yang sekarang ini tengah berkembang. Di samping
keempat klasifikasi di atas, dalam sumber lain, klasifikasi bisnis ritel secara
garis besar dibagi ke dalam dua klasifikasi. Yakni, berdasarkan kepemilikan dan
berdasarkan jenis barang.
5.
Ritel berdasarkan kepemilikan
Ritel berdasarkan
bentuk kepemilikan terbagi ke dalam bebrapa bagian sebagai berikut:
a. Bentuk
Perorangan. Pengelolaan bisnis langsung ditangani oleh pemiliknya. Bentuk
eceran perorangan sangat beragam (misal: toko obat, butik, toko mebel, dan
lainlain). Kelemahan bentuk usaha eceran ini adalah sulit untuk ekspansi
menjadi chain store dan volume
pembeliannya sangat terbatas, sehingga sulit mendapatkan diskon kuantitas yang
mengakibatkan kesulitan untuk bersaing dengan usaha eceran lain.
b. Chain store merupakan
kelompok toko-toko yang dimiliki oleh satu perusahaan. Meski lokasinya
tersebar, administrasinya masih banyak dilakukan di kantor pusat.
c. Franchise.
Bisnis ini diperoleh dengan membayar biaya franchise
ditambah dengan persentase dari laba bulanan. Standar kerja dan produk
biasanya harus mengikuti apa yang ditetapkan oleh pemilik franchise. Contoh bisnis franchise
yaitu Mc Donalds.
6.
Ritel berdasarkan jenis
barang
Klasifikasi usaha
eceran jenis ini dibagi menjadi dua bagian, yakni retail general line dan
retail
limited line.
1) Usaha Eceran General Line
a. General
Store. Di Indonesia lebih dikenal
dengan nama ‘toko
kelontong’ atau P&D (Proficiency & Drunken = makanan
& minuman). Barang yang dijual pada umumnya adalah barang kebutuhan sehari-hari.
![]()

b. Department Store adalah
salah satu bentuk usaha eceran yang menjual barang dalam koleksi yang sangat
besar di bawah satu atap yang dibagi-bagi dalam departemen-departemen, dengan
lokasi di pusat kota. Department store merupakan
pusat perbelanjaan (shopping center)
yang omzetnya besar.
c. Variety Store.
Di Indonesia dikenal sebagai
‘warung’. Ciri khas dari variety store adalah barang yang dijual merupakan barang kebutuhan
pokok dan harganya terbatas hanya pada garis harga tertentu (price line), lokasinya berada pada
daerah pinggiran kota, tapi dalam perkembangannya variety store terdesak oleh pertumbuhan supermarket.
d. Super Store merupakan
sebuah supermarket hypermarket,
adalah gabungan dari discount store dengan
supermarket dan gudang. Bentuk ini disebut demikian karena barang yang dijual
harganya lebih murah 10—15%
dari harga normal. Barang yang dijual bermerek terkenal dan tersedia dalam
jumlah besar, sehingga penyusunannya menyerupai gudang.
e. Full-line Discount Store.
Barang yang jual pada toko ini, meskipun mereknya terkenal, namun harganya
murah. Pelayanannya swalayan (self service),
promosinya dilakukan dengan gencar melalui iklan. Barang yang dijual
bervariasi, mulai dari pakaian sampai alat-alat dapur atau kebun.
f.
Catalog
Show-Room. Ciri khas toko ini adalah menjual
barang-barang perhiasan, alat-alat rumah tangga, koper, atau perlengkapan
elektronik. Barang yang dipajang hanya satu, dengan kode dan harga tertentu.
Konsumen yang berminat cukup menuliskan atau menyebutkan kode barang dan
membawanya pada kasir sambil membayarnya. Barang diambil di konter atau gudang
yang terletak dekat kasir. Di samping itu juga disediakan katalog yang memuat
barang-barang lain yang tidak dipajang di toko. Dengan melihat katalog,
konsumen dapat memilih langsung, bahkan memesannya dari rumah.
g. Home Improvement Center.
Bentuk usaha eceran ini menjual barang-barang keperluan bangunan atau interior
yang semuanya terletak dalam satu gedung. Konsumen yang membutuhkan
barang-barang keperluan rumahnya atau interior dapat memperolehnya pada toko
jenis ini.
2.
Usaha Eceran Limeted Line
a.
Speciality
Store. Bentuk toko eceran ini hanya menjual
barang-barang yang sejenis atau khusus saja, misalnya: bakery (toko roti), toko sepatu, restoran, butik, toko aksesoris,
toko mainan, dan sebagainya. Pada umumnya specialty
store dikelola oleh pemiliknya langsung atau dengan bantuan manajer dan
stafnya. Pemilihan barang pun dilakukan sendiri oleh pemiliknya. Kepemilikan
biasanya perorangan, tetapi ada juga specialty
store yang dimiliki oleh satu grup organisasi perusahaan. Specialty store macam ini disebut juga chain store.
b.
Supermarket. Bentuk usaha
eceran yang jumlahnya termasuk besar dewasa ini adalah supermarket. Awalnya,
supermarket khusus menjual bahan makanan (grocery),
yang diklasifikasikan ke dalam limited
line store. Pada saat ini yang dijual di supermarket sudah beraneka ragam
barang, bahkan barang-barang di luar makanan, sehingga dapat digolongkan ke
dalam general line store. Saat ini
supermarket bersaing dengan fast food dan
convenience store. Kedua bentuk usaha
terakhir ini bergerak dalam bidang makanan, sehingga secara tidak langsung
merupakan kompetitor dari supermarket.
c.
Convenience
store menjual barang-barang yang sama dengan
supermarket, tetapi dalam jumlah dan jenis yang terbatas, misalnya minuman,
roti, makanan kaleng, buah, dan snack.
Jam buka toko ini 24 jam. Harga di toko ini relatif mahal dibandingkan dengan
barang yang ada di supermarket. Lokasi toko berada pada tempat yang strategis,
mudah dilihat dan dicapai konsumen. Sesuai namanya, convenience (menyenangkan), konsumen harus membayar lebih pada
barang yang dibutuhkannya. Dalam hal ini, convenience
berkaitan dengan pola waktu dan jam buka toko serta lokasinya. Konsumen convenience store adalah orang-orang
yang tidak khusus pergi dari rumah untuk
berbelanja. Pada umumnya, konsumennya adalah mereka yang sedang dalam
perjalanan, mampir untuk membeli satu atau dua macam barang.
d.
Warehouse
Show-Room. Bentuk usaha eceran ini menjual satu jenis
barang saja, yaitu furnitur yang ditata seperti layaknya sesuai fungsi. Oleh
karena itu dibutuhkan tempat yang cukup luas agar barang-barang dapat
tertampung. Awalnya warehouse ini
menggunakan sistem pembayaran kontan, tetapi sekarang ini kebanyakan
memberlakukan sistem kredit.
e.
Box
Store. Barang-barang yang dijual pada box store adalah bahan makanan.
Mengelola toko ini lebih mudah daripada supermarket. Bentuk tokonya sangat
sederhana. Tidak ada pelayanan bagi orang yang berbelanja di toko ini. Semua
barang harus di bungkus sendiri oleh konsumen. Biasanya tokonya kecil dan
maksimum dapat menampung 1000 macam barang. Waktu bukanya terbatas, hanya
beberapa jam saja.
Demikian adalah beberapa klasifikasi bisnis ritel
yang diambil dari beberapa sumber. Perlu untuk diingat, bahwa sekarang ini ada
banyak ritel-ritel modern yang sudah menggantikan posisi ritel tradisional. Hal
tersebut seolah menjadi biasa dalam dunia perdagangan khusunya bisnis ritel
ini.
D. Faktor Penting dalam Usaha Bisnis Ritel
Faktor-faktor yang berpengaruh dalam bisnis
retail adalah place, price, product, dan
promotion
yang dikenal sebagai 4P.
1.
Place (Lokasi)
Menurut J. Supranto (1998), lokasi
yaitu tempat di mana perusahaan melakukan kegiatan sehari-hari. Salah pemilihan
lokasi perusahaan akan mengakibatkan kerugian
bagi perusahaan.
Dengan semakin tajamnya persaingan dan banyaknya perusahaan sudah tidak mungkin
lagi untuk perusahaan melakukan coba-coba.
Bagi seorang
retailer untuk menentukan lokasi yang tepat bagi tokonya perlu memperhatikan
faktor-faktor sebagai berikut (Basu Swastha dan Irawan, 1997): a. Luas daerah
perdagangan;
b.
Dapat dicapai dengan mudah;
c.
Potensi pertumbuhannya;
d.
Lokasi toko-toko saingan.
Sedangkan faktor-faktor yang
memengaruhi potensi penjualan dari lokasi toko baru adalah:
a.
Dapat dicapai dengan mudah;
b.
Populasi;
c.
Pesaing;
d.
Batas-batas daerah perdagangan.
2.
Price (Harga)
Basu Swastha
(1996:149) mendefinisikan harga adalah nilai suatu barang atau jasa yang diukur
dengan sejumlah uang di mana berdasarkan nilai tersebut seseorang bersedia
melepaskan barang dan jasa yang dimiliki pihak lain. Dari pengertian di atas
jelas bahwa harga merupakan salah satu variabel yang penting dalam pemasaran,
karena akan memengaruhi secara langsung terhadap hasil penjualan dan keuntungan
yang diperoleh perusahaan.
Tujuan penetapan
harga biasanya mempunyai beberapa tujuan bagi produk yang dihasilkan. Tujuan
tersebut antara lain: a. Menetapkan laba maksimum.
Dalam kenyataannya,
terjadi harga ditentukan oleh penjual dan pembeli. Sebab makin besar pula
kemungkinan bagi penjual mempunyai harapan mendapatkan keuntungan yang
maksimal.
b. Mencegah atau
mengurangi persaingan.
Dapat dilakukan
melalui kebijakan harga. Harga ini dapat diketahui bagaimana penjual menawarkan
barang dengan harga yang sama. Oleh karena itu persaingannya hanya mungkin
dilakukan tanpa melalui kebijakan harga, tetapi melalui servis lain.
c. Memperbaiki
atau mempertahankan pangsa pasar.
Memperbaiki pangsa
pasar dilakukan bila kemampuan di bidang lain seperti di bidang pemasaran,
keuangan, dan sebagainya. Dalam hal ini harga merupakan faktor yang penting
bagi perusahaan kecil dengan kemampuan terbatas. Kemampuan harga ditujukan
hanya sekadar untuk mempertahankan market
share. Prosedur Penetapan Harga Menurut Basu Swastha (1993:150) ada lima
tahap yaitu: a. Mengantisipasi permintaan untuk produk tersebut.
b.
Mengetahui lebih dahulu reaksi dalam persaingan.
c.
Menentukan market share
yang ditentukan.
d.
Memilih strategi harga untuk mencapai target pasar.
e.
Mempertimbangkan politik pemasaran perusahaan.
3.
Product (Produk)
Menentukan
produk/jasa yang akan ditawarkan ke pasar umumnya menjadi langkah
paling awal. Ide mengenai produk bisa didapatkan dari
beberapa sumber. Cara termudah adalah dengan membandingkan langsung produk
sejenis seperti yang ingin dijual, serta melakukan riset kecil-kecilan ke
target pasar mengenai kelebihan dan kekurangan dari produk tersebut. Hasil dari
riset tersebut diharapkan memberikan informasi yang lebih akurat bagi wirausaha
mengenai prospek pasar yang akan dimasukinya dan produk macam mana yang
diharapkan oleh target pasar.
Melihat banyaknya produk yang beredar
di pasar maka keberhasilan bisnis ritel tergantung dari variasi produk yang
dihadirkan atau penyediaan produk yang mungkin hanya tersedia di bisnis yang
dipilih. Mengembangkan merek-merek
berlabel (juga disebut merek-merek toko) yang merupakan produk-produk yang
dikembangkan dan dipasarkan oleh pelaku bisnis ritel dan hanya tersedia dari
tempat bisnis ritel tersebut.
4.
Promotion (Promosi)
Aspek penting
lainnya adalah mengenai promosi dari produk. Bagaimana suatu produk akan
dikenalkan ke pasar agar pelanggan tergerak untuk membelinya. Salah satu cara
berpromosi efektif adalah dengan beriklan. Bagi wirausaha yang baru memulai
bisnis, iklan dilakukan dengan mempertimbangkan efektivitas dan efisiensinya.
Untuk mendapatkan efektivitas beriklan sebaiknya dilakukan pemilihan media
iklan yang benar-benar cocok dengan karakter target pasar dari produk. Mungkin
tidak diperlukan untuk memasang iklan di segala media/tempat karena belum tentu
berpengaruh kepada peningkatan penjualan.
Selain itu,
pemasangan iklan juga berhubungan dengan biaya yang dikeluarkan. Pada tahap-tahap
awal memulai bisnis, sebaiknya masalah biaya mendapat perhatian khusus agar tidak menjadi ganjalan dalam
operasional usaha. Tentukan juga tujuan
dari promosi, apakah untuk menciptakan kesadaran merek atau dimaksudkan
untuk meningkatkan penjualan. Jangan lupa untuk mengukur hasil dari setiap
kegiatan promosi yang dilakukan, apakah sesuai dengan harapan atau masih perlu
perbaikan untuk kegiatan promosi berikutnya.
Dari semua uraian di atas bisa diambil sebuah
kesimpulan bahwa Place, Price, Product, dan Promotion merupakan
faktor yang tidak bisa dipisahkan dalam mengembangkan usaha bisnis retail
karena gabungan antara keempat faktor tersebut bisa jadi menentukan
keberhasilan ataupun gagalnya usaha ritel.
E. Sumber Daya Manusia dalam Bisnis Ritel
1.
Manajemen
Sumber Daya Manusia
Manajemen Sumber
Daya Manusia merupakan bidang manajemen yang berfokus pada pengelolaan Sumber
Daya Manusia dengan seefektif mungkin agar diperoleh suatu kesatuan tenaga
kerja yang memuaskan. Manajemen sumber daya manusia sangat penting dalam bisnis
ritel, sebab setiap karyawan memainkan peran atau bagian yang penting dalam
melaksanakan fungsi pekerjaan dengan baik. Manajemen sumber daya dalam bisnis
ritel adalah upaya untuk mengelola sumber daya manusia (SDM) ritel serta
hubungannya dengan pelanggan dan kultur tentang ritel hingga menjadi manfaat
kompetitif yang mendukung.

Berbagai posisi
karier yang bisa kita temukan dalam sebuah bisnis ritel, antara lain; pemilik
ritel, pengelola ritel, pramuniaga, kasir, kepala gudang, customer service, security,
pemasok barang dagangan, manajer keuangan, dan sebagainya. Pendekatan-
pendekatan yang secara umum digunakan
untuk memotivasi dan
mengoordinasikan aktivitas karyawan, dan manajemen praktis untuk
membangun kekuatan kerja secara efektif dan mengurangi tingkat perputaran
karyawan. Semua aktivitas tersebut dilakukan untuk menerapkan strategi sumber
daya, perencanaan sumber daya, termasuk dalam merekrut, menyeleksi, melatih,
mengawasi, mengevaluasi, dan membagi kompensasi penjualan, yang dikerjakan
hanya oleh manajemen.
Pengelolaan sumber
daya manusia dalam ritel sangat menantang, karena pada dasarnya bisnis ritel
sangat berbeda dengan bisnis atau perusahaan pada umumnya. Ada beberapa ciri
yang dapat dijadikan pembeda yaitu:
a. Jam
kerja karyawan berbeda dengan perusahaan pada umumnya. Jam buka toko yang
paling panjang membuat perusahaan harus membagi pekerjaan dengan sistem shift.
Toko buka 7 hari dalam seminggu dan akan ramai pada hari-hari libur,
membutuhkan komitmen yang tinggi dari karyawan yang harus membuka tokonya
selama 24 jam. Misalnya pada akhir pekan atau menjelang hari raya/ besar
sehingga harus menambah shift kerja dan karyawan.
b. Penekanan
terhadap kontrol biaya. Kontribusi biaya karyawan cukup besar pada total biaya
toko keseluruhan. Sehingga perlu sangat hati-hati dalam merinci secara tepat
kebutuhan karyawan yang efisien sesuai dengan tingkat keahliannya masingmasing.
c. Perubahan
demografis pekerja. Peritel besar yang beroperasi secara nasional dan
internasional akan menghadapi tantangan mengenai perubahan pola demografis
karyawan. Hal ini akan berpengaruh besar terhadap kinerja kerja dan kualitas
pelayanan dan penjualan.
Dalam pelaksanaan
dan pengelolaan sumber daya manusia memerlukan perencanaan yang matang, hal ini
didasarkan pada beberapa karakter yang harus dimiliki oleh para karyawan/pelaku
ritel, di antaranya adalah:
a. Memiliki
keterampilan analisis. Kemampuan menyelesaikan masalah dan memiliki kemampuan
numerik untuk menganalisis fakta dan data bagi perencanaan, pengelolaan, dan
pengawasan.
b. ![]()
Memiliki
kreativitas. Mampu untuk menghasikan ide-ide dan solusi yang imajinatif, cepat
mengenali kebutuhan konsumen serta mampu bertindak dan
mengantisipasi perubahan.
c.
Mampu mengambil keputusan yang cepat dan tepat.
d. Fleksibel.
Mampu berlaku fleksibel terhadap kejadian sehari-hari agar mampu mengakomodasi
perubahan tren, gaya, serta sikap pelanggan.
e.
Inisiatif. Kemampuan melakukan sesuatu yang dirasa perlu
tanpa disuruh.
f.
Leadership.
Hormat kepada keputusan, mampu mendelegasikan dan memberikan panduan kepada
orang lain.
g.
Mampu mengorganisasikan pekerjaan dan menentukan
prioritas.
h. Berani
mengambil risiko dengan pertimbangan, analisis yang akurat dan bertanggung jawab.
Dalam pengelolaan
sumber daya manusia, memerlukan tahapan yang harus dilakukan:
a. Rekrutmen
Merupakan gerbang
awal yang menentukan. Contoh pada Indomaret: Rekrutmen dimulai dari penentuan
berbagai kriteria SDM yang dibutuhkan, lalu mempublikasikannya di situs resmi
Indomaret dan juga di media massa cetak, demi mendapatkan calon karyawan yang
tepat dan handal.
b. Orientasi
Setiap organisasi
memiliki budaya, suasana, prinsip kerja, dan nilai-nilai yang berbeda. Pada
tahap ini diperkenalkan mengenai perusahaan, posisi perusahaan, personel
perusahaan, hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan, pekerjaan dan alur
pekerjaan secara rinci.
Contoh pada
Indomaret: Orientasi dilakukan pada masa awal training agar calon peserta training
paham tentang prinsip kerja dan nilai-nilai yang ada di dalam perusahaan.
c. Pelatihan
Pelatihan sangat diperlukan untuk
meningkatkan keterampilan dan pengetahuan karyawan sehingga dapat terjadi
peningkatan kinerja.
Ada
2 (dua) macam pelatihan:
1)
Pelatihan keterampilan teknis
Keterampilan
yang diberikan untuk tampil melakukan suatu pekerjaan. Seperti keterampilan
komputer dalam penggunaan cash register pada
kasir dan lainlain.
2)
Pelatihan antarpribadi
Pelatihan
keterampilan berhubungan dengan sesama karyawan, atasan, bawahan, mitra
perusahaan, atau pelanggan.
Contoh pada
Indomaret: Pelatihan pada Indomaret memiliki beberapa perbedaan tergantung
kepada jenis bidang kerja. Namun secara umum, pelatihan dilakukan selama tiga
bulan penuh di lokasi kerja. Penempatan Tahap di mana karyawan yang telah
dinilai layak diterima akan ditempatkan kerjanya sesuai divisi yang dibutuhkan.
Contoh pada Indomaret: Setelah calon SDM mampu melewati masa training dengan baik maka ia akan
dipilih dan ditempatkan sesuai dengan bidang pekerjaan yang akan dimasukinya.
Untuk karyawan Indomaret yang masih baru, mereka akan langsung dikontrak untuk
tiga bulan ke depan.
d. Pemberdayaan
Mendelegasikan pekerjaan kepada bawahan dengan
pengawasan.
Contoh pada
Indomaret: Karyawan yang telah melewati masa training (misalnya kasir) biasanya akan tetap dibimbing oleh
senior/supervisor-nya selama
seminggu. Setelah dia dinilai cukup mahir dan terampil dalam melakukan tugasnya
maka intensitas bimbingan terhadapnya akan dikurangi, tapi tidak terlepas dari
pengawasan senior/supervisor.
e.
Continous Improvement
Setiap hari harus menjadi lebih baik dari hari
kemarin.
Contoh pada
Indomaret: Dua kali dalam sebulan, kesatuan tim dari pusat datang untuk
mengontrol seluruh kegiatan fungsional SDM yang ada di Indomaret. Kontrol ini
bertujuan untuk memantau dan menjaga kestabilan kinerja SDM agar terus-menerus
menjadi lebih baik. Apabila ditemukan kesalahan/kinerja SDM tidak sesuai dengan
standar kerja maka kesatuan tim pusat akan melaporkan kepada SM yang akan
ditindaklanjuti oleh SM itu sendiri, karena itu adalah wewenang SM atas karyawan.
2.
Struktur
Organisasi pada Bisnis Ritel
Struktur organisasi
dalam pengelolaan bisnis ritel harus mampu mengidentifikasi aktivitas yang
dilakukan karyawan dan menentukan garis otoritas dan tanggung jawabnya dalam
perusahaan. Struktur organisasi dimulai dengan cara menentukan dahulu semua
tugas yang ada, setelah diidentifikasi, dikelompokan dalam bentuk bidang kerja
dan ditentukan pula hubungan timbal baliknya. Struktur organisasi ritel tidak
harus selalu baku untuk setiap perusahaan ritel, struktur organisasi dapat
berbeda antara peritel disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.
Berbagai pilihan struktur organisasi adalah sebagai
berikut:
1) Struktur
organisasi fungsional
Struktur organisasi
ini disusun berdasarkan fungsi yang dijalankan masing-masing departemen.
2) Struktur
organisasi berdasarkan produk
Struktur organisasi yang disusun berdasarkan
barang yang dijual dalam ritel.
3) Struktur
organisasi berdasarkan geografis
Struktur organisasi
ini adalah struktur organisasi yang disusun berdasarkan wilayah geografis yang
dilayani ritel.
4) Struktur
organisasi kombinasi
Struktur organisasi
yang disusun dalam bentuk kombinasi antara fungsional, geografis, maupun barang
dagangan yang dijual.
Adapun tugas dan
tanggung jawab unit fungsional masing-masing pelaku bisnis ritel di Indomaret
adalah sebagai berikut:
1. SM (Store Manager)
a)
Berwenang dalam memantau seluruh unit fungsional yang ada
di Indomaret.
b)
Menjalankan operasional Indomaret yang
dipimpinnya setiap hari. Mengembangkan outlet
yang dipimpin dengan efektif dan efisien secara konsisten termasuk
meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
c)
Menjalankan strategi penjualan untuk
mencapai target-target yang ditetapkan oleh perusahaan (Sales Growth) misalnya :
1)
Menjaga
kualitas produk dan pelayanan yang konsisten.
2)
Mengaktifkan program promosi: Misalnya
secara mingguan, SM akan mengumumkan program “belanja minimal 100 ribu,
berhadiah Sania 2 liter”. Program lain
misalnya pemberian potongan harga dari total belanja
(sesuai dengan jenis produk tertentu) untuk member Indomaret mulai dari hari Kamis
sampai Minggu.
d)
Mengevaluasi setiap personil yang dibawahi oleh Store Manager itu sendiri.
e)
Mengontrol dan mengevaluasi Management Outlet (Operasi, Inventory,
Keuangan) yang dibawahi agar berjalan secara efektif dan efisien khususnya
masalah-masalah yang berkaitan dengan sistem dan prosedur kerja serta sistem pelaporannya.
f)
Menganalisis dan mengantisipasi setiap
perkembangan/kecenderungan pasar yang dibawahi yang berdampak pada Sales Growth dan melakukan/membuat
usulan langkah perbaikan untuk mengantisipasi setiap perkembangan yang ada.
g)
Mengevaluasi seluruh hasil yang dicapai
secara periodik dan menyusun rencana kerja serta target-target yang hendak
dicapai untuk memperbaiki kekurangan maupun untuk mempertahankan hasil yang
telah dicapai.
2. ASM
(Assistant Store Manager) berwenang
dalam membantu tugas SM, menggantikan tugas SM untuk waktu tertentu (sementara).
3. Divisi
lapangan yang dikepalai Field Supervisor/Supervisor
Lapangan. Field Supervisor memantau
kinerja unit yang ada di bawahnya, yaitu:
a)
Stockist:
menyusun, menyortir, dan menempatkan barang yang dijual (dengan catatan bahwa
barang/merchandise yang ada di stan
jangan sampai kosong).
b)
Pramuniaga: membantu stockist dalam menjalankan tugasnya,
selalu bersiap (stand by) di pos/corner-nya masing-masing, merapikan
susunan barang dan menjaga barang yang dijual
c)
PU (Pembantu Umum): bertugas untuk
membantu segala keperluan karyawan lain yang memang ditugaskan tidak boleh
keluar dari lokasi ritel Indomaret. Misalnya membeli makan siang, minum, dan lain-lain.
d)
Security:
menjaga keamanan dan ketertiban dan harus siap sedia di pintu masuk/keluar
lokasi Indomaret.
4. Divisi
Kasir yang dikepalai Cashier Supervisor (CSPV)/Supervisor
kasir. Cashier Supervisor memantau
kinerja unit yang ada di bawahnya, yaitu:
a)
Kasir (Cashier):
menerima pembayaran atas belanja konsumen.
b)
Customer
Service: berjaga di tempat penitipan barang untuk
melayani konsumen maupun karyawan Indomaret. Misalnya tas (kantungan), paying,
ataupun barang lainnya. Selain itu juga memberikan pengumuman khusus melalui microphone yang ditujukan kepada pihak-pihak tertentu.
c)
Lansir: merapikan troli, mengantarkan
barang konsumen, dan membantu kasir dalam memasukkan barang belanjaan ke dalam
kantung plastik belanja.
5. Divisi
Gudang yang dikepalai Supervisor Gudang bertugas untuk melakukan pencatatan dan
mengontrol jumlah barang di gudang, mencocokkan jumlah
barang secara fisik dan data, serta memantau unit kerja
di bawahnya, seperti: a) Labelling: melabel barang-barang yang baru
masuk.
b)
Sticker: menempelkan
stiker pada barang yang telah diberi label.
c)
Admin Entry Data/AED: urusan
administrasi barang.
6. Divisi
Keuangan yang dikepalai Finance Manager/Manajer
keuangan bertugas untuk mengelola keuangan Indomaret, termasuk pada penyusunan
laporan keuangan selama satu periode, dan membuat laporan keuangannya. Selain
sumber daya manusia yang ada di atas, Indomaret juga memiliki SDM dari luar
perusahaan yang juga bersifat membantu kelangsungan usaha, yaitu:
a)
Supplier:
Supplier yang datang ke Indomaret
jumlahnya banyak bahkan bisa mencapai 25 supplier
dalam sehari. Mereka memasok setiap jenis barang tersedia di Indomaret.
Misalnya Unilever, P&G, Sari Roti, Golden Ginger, dan lain-lain.
b)
SPG: merupakan karyawan berasal dari supplier yang ditugaskan untuk
memasarkan produknya. Ada dua jenis SPG di Indomaret, yaitu SPG stay, dan mobile (ikut mempromosi barangnya).
3. Memotivasi Karyawan Ritel
Ritel umumnya
menggunakan tiga metode untuk memotivasi aktivitas karyawannya, yaitu:
1) Kebijakan
tertulis dan pengawasan karyawan.
Hal ini adalah
metode koordinasi yang paling mendasar karena dapat dijadikan indikasi dan
petunjuk bagi karyawan mengenai apa yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan.
2) Insentif
Insentif biasa dipergunakan peritel
untuk memotivasi karyawan dalam melaksanakan aktivitas yang konsisten dengan
sasaran penjualan.
Terdapat
2 (dua) jenis insentif, yaitu:
a)
Komisi
Kompensasi yang didasarkan pada rumusan yang telah
ditetapkan perusahaan.
Contoh: komisi
di Indomaret telah diberikan sesuai dengan spesifikasi kerja, apabila ada
karyawan yang lembur harus melaporkannya terlebih dahulu kepada SM/ASM.
b)
Bonus
Kompensasi tambahan yang diberikan
secara periodik berdasarkan evaluasi kerja karyawan.
Contoh: bonus
diberikan sesuai dengan hari besar keagamaan. Misalnya pada saat menjelang hari
raya Idul Fitri, karyawan yang muslim akan mendapatkan THR. Sementara karyawan
yang nonmuslim (kristen) akan mendapatkan bonus hari Natal.
3) Budaya organisasi
Memotivasi dan
mengoordinasi karyawan bertujuan untuk mengembangkan budaya organisasi kuat.
Satuan nilai-nilai, tradisi, kebiasaan dalam suatu perusahaan yang mendasari
perilaku karyawan atau organisasi, seperti menghargai setiap karyawan, mau
mendengarkan bawahan, dan lain-lain. Contoh pada Indomaret: budaya yang kuat
terlihat dari kebijakkan Indomaret
adalah kerja yang tangkas, bersih, ramah, dan disiplin.
Tantangan utama
dalam penjualan eceran adalah untuk mengurangi tingkat keluar masuk karyawan.
Perputaran karyawan yang tinggi akan mengurangi penjualan (karena kurang
berpengalaman, kurang pengetahuan akan barang, dan kebijakan perusahaan
sehingga tidak mampu berinteraksi secara efektif dengan konsumen) dan meningkat
biaya (rekrutmen dan pelatihan membutuhkan biaya). Beberapa pendekatan yang
dilakukan oleh ritel untuk membangun komitmen timbal balik adalah:
a)
Meningkatkan keterampilan.
b)
Memberdayakan karyawan.
c)
Menciptakan hubungan kemitraan dalam karyawan.
Terdapat tiga
aktivitas manajemen sumber daya manusia yang dapat membangun dan mengembangkan
komitmen karyawan melalui hubungan kemitraan:
(1) Mengurangi
perbedaan status antarkaryawan.
(2) Memberikan
peluang promosi untuk karyawan lama.
(3) Diberlakukan
flextime (sistem penjadwalan
pekerjaan yang memungkinkan karyawan memilih waktu kerja) dan job sharing (dua karyawan secara
sukarela bertanggung jawab atas satu pekerjaan.
Pada Indomaret,
setiap karyawan dibimbing agar mampu saling bekerja sama dalam melakukan
berbagai kegiatan. Misalnya penempatan dan penyusunan barang pada rak merupakan
tugas seorang stockist. Namun apabila
ada konsumen yang mengambil kemudian mengembalikannya sehingga tidak tersusun
seperti kondisi semula maka pramuniaga yang sedang stand by akan membantu untuk menyusunnya dengan rapi kembali.

Komentar
Posting Komentar