BAB 2 MAPEL BISNIS RITEL

 

BAB 2  MANAJEMEN BISNIS RITEL

Kompetensi dasar

3.2 Menganalisis manajemen bisnis ritel

4.2. Melakukan manajemen bisnis ritel

Tujuan pembelajaran

Setelah mempelajari bab ini peserta didik mampu:

1.     Mengidentifikasi manajemen bisnis ritel

2.     Menganalisis manajemen bisnis ritel

3.     Melakukan manajemen bisnis ritel

A. Pengertian Manajemen Ritel

 

1.         Pengertian Manajemen

Apa yang dimaksud dengan manajemen? Pengertian Manajemen adalah sebuah proses untuk mengatur sesuatu yang dilakukan oleh sekelompok orang atau organisasi untuk mencapai tujuan organisasi tersebut dengan cara bekerja sama memanfaatkan sumber daya yang dimiliki.

Secara etimologi kata manajemen diambil dari bahasa Perancis kuno, yaitu menagement, yang artinya adalah seni dalam mengatur dan melaksanakan. Manajemen dapat juga didefinisikan sebagai upaya perencanaan, pengoordinasian, pengorganisasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran secara efisien dan efektif. Efektif dalam hal ini adalah untuk mencapai tujuan sesuai


perencanaan dan efisien untuk melaksanakan pekerjaan dengan benar dan teroganisir. Menurut T. Hani Handoko, ada tiga alasan utama mengapa manajemen diperlukan: a.

Manajemen diperlukan agar tujuan pribadi dan organisasi dapat tercapai.

b.       Manajemen juga diperlukan untuk menjaga keseimbangan antara tujuan-tujuan, sasaran, dan kegiatan, yang saling bertentangan dari pihak yang punya kepentingan dalam organisasi.

c.       Manajemen dibutuhkan untuk mencapai efisiensi dan efektivitas suatu kerja organisasi.

d.      Sebuah organisasi yang sedang berkembang membutuhkan manajemen dalam beberapa hal; mencakup manajemen strategi, manajemen sumber daya manusia, produksi, pemasaran, dan manajemen lainnya.

2.         Pengertian Ritel

Berikut ini adalah definisi dari ritel menurut Berman dan Evans (2001:3) retail consists of the business activities involved in selling goods and services to consumers for their personal, family, or household use yang bisa diartikan bahwa ritel merupakan kegiatan bisnis yang terlibat dalam penjualan barang maupun jasa kepada konsumen untuk kebutuhan pribadi, kebutuhan keluarga, atau kebutuhan rumah tangga. Sedangkan menurut kamus, ritel adalah penjualan barang atau jasa kepada khalayak (Manser, 1995). Jadi bisnis ritel adalah kegiatan penjualan barang dan jasa antara pedagang dan konsumen di mana di dalamnya terdapat akttivitas-aktivitas yang saling mendukung dan memengaruhi.

3.         Pengertian Manajemen Ritel

Setelah mengetahui definisi dari manajemen dan retail maka bisa disimpulkan bahwa manajemen retail adalah pengaturan keseluruhan faktor-faktor yang berpengaruh dalam perdagangan retail, yaitu perdagangan langsung barang dan jasa kepada konsumen. Faktor-faktor yang berpengaruh dalam bisnis retail adalah place, price, product, dan promotion yang dikenal sebagai 4P.

 

 

B. Pengelompokan Bisnis Ritel

1.         Tipe Retailer

Konsumen sekarang ini sangat manja, oleh karena itu mereka dapat dilayani oleh berbagai tipe toko eceran dengan berbagai persediaan aneka macam barang, untuk memenuhi berbagai kebutuhan dan keinginan (needs and wants). Toko eceran tumbuh sangat cepat dalam bentuk store retailers, nonstore retails, dan retail organization. Berikut akan dijelaskan secara lebih detail:

a.       Store retails, berumbuh pesat seperti Specialty Store, Departement Store, Supermarket, Convenience Store, Discount Store, Off-Price Retailer (Factory Outlets, Independent off-price retailers, Warehouse club/wholesale clubs), Superstore, Catalog Showroom.

b.       Nonstore retailing. Ada empat macam yaitu:

1)         Direct selling merupakan penjualan dari pintu ke pintu. Penjualan di tempat pertemuan misalnya ibu-ibu arisan, perkantoran, dan sebagainya. Ada beberapa bentuk direct selling yaitu: one-to-one selling, yaitu mengarahkan penjualannya ke satu pembeli potensial, dan one-to-many/party selling, yaitu


seorang wiraniaga mengunjungi suatu kelompok calon konsumen seperti arisan ibu-ibu atau tempat pesta, bahkan di perkantoran kemudian merekomendasikan produk tertentu, lalu menerima pesanan.

2)         Direct marketing ini berasal dari kegiatan direct mail dan penyebaran  katalog, termasuk ke dalamnya kegiatan telemarketing  dengan menggunakan media televisi dan electronic shopping melalui internet.

3)         Automatic vending, digunakan untuk menjual barang-barang yang dibeli secara impulse atau emotional buying motive, seperti rokok, permen, koran, soft drink, dan lain sebagainya. Mesin bekerja 24 jam sehari.

4)         Buying services. Usaha ini tidak memiliki toko dan melayani anggota layanan khusus, seperti karyawan sebuah perkantoran serta kelompok lainnya yang membeli dan mendapat diskon.

c.  Retail organizations. Walaupun kebanyakan toko eceran ini milik perorangan yang mandiri, namun bertumbuh pula toko eceran yang dikelola oleh organisasi perusahaan. Perusahaan toko eceran ini memperoleh berbagai keuntungan secara ekonomis, daya belinya kuat, tenaga pelayanannya cukup terlatih. Bentuk utama dari corporate retailing ini ialah chain stores, voluntary chain stores, retailer cooperatives, waralaba, dan sebagainya.

2.         Jenis-Jenis Bisnis Ritel

Sektor ritel adalah salah satu segmen dengan tingkat pertumbuhan paling cepat di banyak negara termasuk Indonesia. Sebagian besar peritel meliputi penjualan barang atau jasa dari pihak pembuat, penjualan grosir/partai besar, agen, importir, atau peritel lainnya dan penjualannya kepada konsumen untuk penggunaan pribadi. Berikut ini bisnis ritel:

a.      Ritel toko

Situasi ritel masa kini terdiri dari berbagai macam toko independen, pusat perbelanjaan, perusahaan diskon, toko pengecer yang menawarkan kenyamanan berbelanja, jaringan peritel nasional maupun internasional, supermarket konvensional, dan perusahaan-perusahaan lain dengan skala yang lebih besar. Semua ini tampak mendominasi sektor ritel. Peritel toko beroperasi di lokasi- lokasi penjualan yang didesain untuk menarik konsumen dalam jumlah yang cukup besar agar mau berkunjung ke toko mereka. Pada umumnya toko-toko memamerkan barang jualan secara maksimal dan menggunakan iklan di banyak media massa untuk menarik sebanyak mungkin konsumen. Mereka ini biasanya menjual barang dagangan kepada masyarakat umum atau konsumen rumah tangga tetap sebagian juga melayani klien institusi dan bisnis. Ini meliputi bangunan-bangunan seperti toko-toko alat tulis kantor, toko komputer dan software, dealer bahan bangunan, seperti usaha ledeng dan sebagainya.

b.      Ritel khusus

Sementara peritel raksasa seperti Wal-Mart atau Carrefour cenderung untuk menjual barang-barang kebutuhan pokok, para peritel ini cenderung menjual barangbarang sekunder atau tersier. Mereka berfokus pada peningkatan kenyamanan lingkungan rumah tangga, kekayaan pengalaman dalam berbelanja, dan inventaris yang memenuhi kebutuhan pelanggan yang menjadi target dengan frekuensi yang bisa disesuaikan.


Banyak toko bisa dimiliki dan dijalankan oleh satu orang dengan bantuan yang seadanya. Dibandingkan dengan pengoperasian manufaktur, bisnis ritel khusus relatif lebih mudah dibangun pada awalnya baik secara keuangan dan pengelolaan. Namun usaha yang buruk dan analisis pasar yang tidak memadai.

c.      Peritel nontoko

Bisnis-bisnis ini sebagian besar berkaitan dengan penjualan ritel produk melalui TV, belanja elektronik, kertas dan katalog elektronik, pengundangan dari pintu ke pintu, demonstrasi dalam rumah, kios portabel, mesin pengecer, dan sebagainya. Dengan penjualan eceran di tepi jalan sebagai pengecualian, bisnis-bisnis ini tidak biasanya mempertahankan saham untuk dijual dengan premis. Ada begitu banyak manfaat yang bisa dituai dari ritel ini.

d.      Pemesanan via pos

Dari buku hingga brosur dasar, katalog sudah banyak dikenal bagi mereka yang tinggal jauh dari keramaian pusat perbelanjaan. Katalog juga akrab bagi para manula. Mereka yang suka barang/jasa yang tidak dijual bebas atau memiliki spesifikasi yang kurang lazim, dan bagi orang-orang yang kurang suka berbelanja berdesakan. Dengan pemesanan via pos, katalog berisi barang yang dijual bisa dikirimkan ke ribuan pembeli potensial pada satu waktu untuk menaikkan angka penjualan atau penghasilan konsumen yang riil. Perusahaan pemesanan via pos termasuk bisnis barang jualan, perusahaan yang menjual barang-barang khusus dengan banyak variasi, perusahaan yang menjual benda-benda baru, berbagai jenis klub (CD, DVD, buku), dan sebagainya.

e.      Internet

Internet sudah mengubah kondisi industri ritel masa kini, menghubungkan perusahaan dengan perusahaan lain dan pasar lain, serta pelanggan individu. Peritel yang tidak memahami dampak internet pada tokonya dan saluran katalognya berpeluang untuk meremehkan investasi di internet.

f.        Mesin Pengecer otomatis.

Mesin pengecer otomatis telah menjadi konsep bisnis yang terbukti ampuh selama lebih dari satu abad. Di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, kudapan dan soda meraup angka penjualan lebih dari 20 miliar dollar di tahun 1999.

Jika dirinci, dari keenam jenis ritel di atas maka dapat diklasifikasikan empat jenis bisnis ritel, yaitu: 1) berdasarkan kepemilikan bisnis, 2) berdasarkan kategori barang dagangan, 3) berdasarkan luas area penjualan, dan 4) berdasarkan peritel tanpa toko. Keempat klasifikasi tersebut akan dijelaskan pada pembahasan berikutnya.

 

 

C. Klasifikasi        Bisnis Ritel

Bisnis ritel, dapat diklasifikasikan menjadi empat bagian, yaitu sebagai berikut:

1.         Ritel berdasarkan kepemilikan bisnis

a.       Toko waralaba atau franchise store adalah toko ritel yang dibangun berdasarkan kontrak kerja bagi hasil (waralaba) antara pengusaha investor perseorangan


dengan pewaralaba yang merupakan pemegang lisensi/nama toko, sponsor, dan pengelola usaha, seperti fast food restaurant, bengkel, toko optikal, atau supermarket ( McDonald’s, Indamart, Alfamart ).

b.       Rantai toko ritel. Jenis ini merupakan toko ritel dengan banyak cabang dan pada umumnya dimiliki oleh suatu instansi bisnis bukan perorangan, namun dalam bentuk perseroan. Bentuknya seperti rantai toko minimarket atau mega hyperstore, misalnya Hero supermarket, Sogo Departement Store & Supermarket, Matahari Mall, Ramayana Mall, dan sebagainya.

c.       Peritel toko tunggal (single store retailer) merupakan jenis bisnis ritel yang paling banyak jumlahnya dengan ukuran toko umumnya di bawah 100 m², mulai dari kios atau toko di pasar tradisional sampai minimarket modern dan kepemilikan secara individual.

2.         Ritel berdasarkan kategori barang dagangan

a.       Toko khusus (speciality store) merupakan toko ritel yang menjual satu jenis barang atau suatu rentang kategori barang yang relatif sedikit, misalnya apotik, art shop, toko perhiasan, dan toko buku.

b.       Toko serba ada (grocery store) toko ritel yang menjual sebagian besar kategori barangnya yaitu barang kebutuhan sehari-hari, fresh food, ferishable, dry food, beverges, dan kosmetik.

c.       Departement store. Pada jenis ini sebagian besar assortments yang dijual merupakan nonbasic items atau bukan kebutuhan pokok, fashionables, dan branded items atau bermerek, dengan lebih dari 80% pola konsinyasi, items grocery jika dijual hanya sebagai pelengkap, misalnya di Ramayana Mall, Borobudur, Pasaraya, dan sebagainya.

d.      Hyperstore. Jenis bisnis ritel ini menjual barang-barang dalam rentang kategori barang yang sangat luas yaitu menjual sebagian besar barang kebutuhan setiap lapisan konsumen, sehingga sedikitnya membutuhkan luas toko dan area sebesar

10.000 m² dan di Indonesia belum ada seluas ini.

3.         Ritel berdasarkan luas area penjualan

Ada beberapa jenis ritel berdasarkan luas area penjualan. Di antaranya adalah sebagai berikut:

a.       Small store adalah toko kecil, seperti kios, yang pada umumnya merupakan toko ritel tradisional, dioperasikan sebagai usaha kecil dengan sales area kurang 100 m².

b.       Minimarket, dioperasikan dengan luas area antara 100 s.d. 1.000 m².

c.       Supermarket, dioperasikan dengan luas sales antara 1.000 s.d. 5.000 m².

d.      Hypermarket, dioperasikan dengan luas sales area lebih dari 5.000 m².

4.         Ritel berdasarkan peritel tanpa toko

Ada beberapa jenis ritel berdasarkan peritel tanpa toko. Di antaranya adalah sebagai


berikut:

a.       Multilevel marketing, merupakan suatu model penjualan barang secara langsung dengan sistem komisi penjualan berperingkat berdasarkan status keanggotaan dalam peringkat distribusi.

b.       Mail & phone order ritel, merupakan perusahaan yang melakukan penjualan berdasarkan pesanan melalui surat dan atau telepon. Prinsip dari perusahaan ini mengompensasikan overhead cost pengoperasian sebuah toko (secara fisik) dengan pengoperasian delivery services.

c.       Internet/online store/e-commerce, merupakan suatu model penjualan barang yang melakukan penjualan berdasarkan pesanan melalui internet.

Itulah keempat klasifikasi bisnis ritel yang sekarang ini tengah berkembang. Di samping keempat klasifikasi di atas, dalam sumber lain, klasifikasi bisnis ritel secara garis besar dibagi ke dalam dua klasifikasi. Yakni, berdasarkan kepemilikan dan berdasarkan jenis barang.

5.         Ritel berdasarkan kepemilikan

Ritel berdasarkan bentuk kepemilikan terbagi ke dalam bebrapa bagian sebagai berikut:

a.       Bentuk Perorangan. Pengelolaan bisnis langsung ditangani oleh pemiliknya. Bentuk eceran perorangan sangat beragam (misal: toko obat, butik, toko mebel, dan lainlain). Kelemahan bentuk usaha eceran ini adalah sulit untuk ekspansi menjadi chain store dan volume pembeliannya sangat terbatas, sehingga sulit mendapatkan diskon kuantitas yang mengakibatkan kesulitan untuk bersaing dengan usaha eceran lain.

b.       Chain store merupakan kelompok toko-toko yang dimiliki oleh satu perusahaan. Meski lokasinya tersebar, administrasinya masih banyak dilakukan di kantor pusat.

c.       Franchise. Bisnis ini diperoleh dengan membayar biaya franchise ditambah dengan persentase dari laba bulanan. Standar kerja dan produk biasanya harus mengikuti apa yang ditetapkan oleh pemilik franchise. Contoh bisnis franchise yaitu Mc Donalds.

6.         Ritel berdasarkan jenis barang

Klasifikasi usaha eceran jenis ini dibagi menjadi dua bagian, yakni retail general line dan

retail limited line.

1) Usaha Eceran General Line

a.       General Store. Di Indonesia lebih dikenal dengan nama ‘toko kelontong’ atau P&D (Proficiency & Drunken = makanan & minuman). Barang yang dijual pada umumnya adalah barang kebutuhan sehari-hari.


b.       Department Store adalah salah satu bentuk usaha eceran yang menjual barang dalam koleksi yang sangat besar di bawah satu atap yang dibagi-bagi dalam departemen-departemen, dengan lokasi di pusat kota. Department store merupakan pusat perbelanjaan (shopping center) yang omzetnya besar.

c.       Variety Store. Di Indonesia dikenal sebagai ‘warung’. Ciri khas dari variety store adalah barang yang dijual merupakan barang kebutuhan pokok dan harganya terbatas hanya pada garis harga tertentu (price line), lokasinya berada pada daerah pinggiran kota, tapi dalam perkembangannya variety store terdesak oleh pertumbuhan supermarket.

d.      Super Store merupakan sebuah supermarket hypermarket, adalah gabungan dari discount store dengan supermarket dan gudang. Bentuk ini disebut demikian karena barang yang dijual harganya lebih murah 1015% dari harga normal. Barang yang dijual bermerek terkenal dan tersedia dalam jumlah besar, sehingga penyusunannya menyerupai gudang.

e.       Full-line Discount Store. Barang yang jual pada toko ini, meskipun mereknya terkenal, namun harganya murah. Pelayanannya swalayan (self service), promosinya dilakukan dengan gencar melalui iklan. Barang yang dijual bervariasi, mulai dari pakaian sampai alat-alat dapur atau kebun.

f.        Catalog Show-Room. Ciri khas toko ini adalah menjual barang-barang perhiasan, alat-alat rumah tangga, koper, atau perlengkapan elektronik. Barang yang dipajang hanya satu, dengan kode dan harga tertentu. Konsumen yang berminat cukup menuliskan atau menyebutkan kode barang dan membawanya pada kasir sambil membayarnya. Barang diambil di konter atau gudang yang terletak dekat kasir. Di samping itu juga disediakan katalog yang memuat barang-barang lain yang tidak dipajang di toko. Dengan melihat katalog, konsumen dapat memilih langsung, bahkan memesannya dari rumah.

g.      Home Improvement Center. Bentuk usaha eceran ini menjual barang-barang keperluan bangunan atau interior yang semuanya terletak dalam satu gedung. Konsumen yang membutuhkan barang-barang keperluan rumahnya atau interior dapat memperolehnya pada toko jenis ini.

2.       Usaha Eceran Limeted Line

a.         Speciality Store. Bentuk toko eceran ini hanya menjual barang-barang yang sejenis atau khusus saja, misalnya: bakery (toko roti), toko sepatu, restoran, butik, toko aksesoris, toko mainan, dan sebagainya. Pada umumnya specialty store dikelola oleh pemiliknya langsung atau dengan bantuan manajer dan stafnya. Pemilihan barang pun dilakukan sendiri oleh pemiliknya. Kepemilikan biasanya perorangan, tetapi ada juga specialty store yang dimiliki oleh satu grup organisasi perusahaan. Specialty store macam ini disebut juga chain store.


b.         Supermarket. Bentuk usaha eceran yang jumlahnya termasuk besar dewasa ini adalah supermarket. Awalnya, supermarket khusus menjual bahan makanan (grocery), yang diklasifikasikan ke dalam limited line store. Pada saat ini yang dijual di supermarket sudah beraneka ragam barang, bahkan barang-barang di luar makanan, sehingga dapat digolongkan ke dalam general line store. Saat ini supermarket bersaing dengan fast food dan convenience store. Kedua bentuk usaha terakhir ini bergerak dalam bidang makanan, sehingga secara tidak langsung merupakan kompetitor dari supermarket.

c.         Convenience store menjual barang-barang yang sama dengan supermarket, tetapi dalam jumlah dan jenis yang terbatas, misalnya minuman, roti, makanan kaleng, buah, dan snack. Jam buka toko ini 24 jam. Harga di toko ini relatif mahal dibandingkan dengan barang yang ada di supermarket. Lokasi toko berada pada tempat yang strategis, mudah dilihat dan dicapai konsumen. Sesuai namanya, convenience (menyenangkan), konsumen harus membayar lebih pada barang yang dibutuhkannya. Dalam hal ini, convenience berkaitan dengan pola waktu dan jam buka toko serta lokasinya. Konsumen convenience store adalah orang-orang yang tidak khusus pergi  dari rumah untuk berbelanja. Pada umumnya, konsumennya adalah mereka yang sedang dalam perjalanan, mampir untuk membeli satu atau dua macam barang.

d.         Warehouse Show-Room. Bentuk usaha eceran ini menjual satu jenis barang saja, yaitu furnitur yang ditata seperti layaknya sesuai fungsi. Oleh karena itu dibutuhkan tempat yang cukup luas agar barang-barang dapat tertampung. Awalnya warehouse ini menggunakan sistem pembayaran kontan, tetapi sekarang ini kebanyakan memberlakukan sistem kredit.

e.         Box Store. Barang-barang yang dijual pada box store adalah bahan makanan. Mengelola toko ini lebih mudah daripada supermarket. Bentuk tokonya sangat sederhana. Tidak ada pelayanan bagi orang yang berbelanja di toko ini. Semua barang harus di bungkus sendiri oleh konsumen. Biasanya tokonya kecil dan maksimum dapat menampung 1000 macam barang. Waktu bukanya terbatas, hanya beberapa jam saja.

Demikian adalah beberapa klasifikasi bisnis ritel yang diambil dari beberapa sumber. Perlu untuk diingat, bahwa sekarang ini ada banyak ritel-ritel modern yang sudah menggantikan posisi ritel tradisional. Hal tersebut seolah menjadi biasa dalam dunia perdagangan khusunya bisnis ritel ini.

 

 

D. Faktor Penting dalam Usaha Bisnis Ritel

Faktor-faktor yang berpengaruh dalam bisnis retail adalah place, price, product, dan

promotion yang dikenal sebagai 4P.

1.         Place (Lokasi)

Menurut J. Supranto (1998), lokasi yaitu tempat di mana perusahaan melakukan kegiatan sehari-hari. Salah pemilihan lokasi perusahaan akan mengakibatkan kerugian bagi perusahaan. Dengan semakin tajamnya persaingan dan banyaknya perusahaan sudah tidak mungkin lagi untuk perusahaan melakukan coba-coba.

Bagi seorang retailer untuk menentukan lokasi yang tepat bagi tokonya perlu memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut (Basu Swastha dan Irawan, 1997): a. Luas daerah perdagangan;

b.       Dapat dicapai dengan mudah;

c.       Potensi pertumbuhannya;

d.      Lokasi toko-toko saingan.

Sedangkan faktor-faktor yang memengaruhi potensi penjualan dari lokasi toko baru adalah:

a.       Dapat dicapai dengan mudah;

b.       Populasi;

c.       Pesaing;

d.      Batas-batas daerah perdagangan.

2.         Price (Harga)

Basu Swastha (1996:149) mendefinisikan harga adalah nilai suatu barang atau jasa yang diukur dengan sejumlah uang di mana berdasarkan nilai tersebut seseorang bersedia melepaskan barang dan jasa yang dimiliki pihak lain. Dari pengertian di atas jelas bahwa harga merupakan salah satu variabel yang penting dalam pemasaran, karena akan memengaruhi secara langsung terhadap hasil penjualan dan keuntungan yang diperoleh perusahaan.

Tujuan penetapan harga biasanya mempunyai beberapa tujuan bagi produk yang dihasilkan. Tujuan tersebut antara lain: a. Menetapkan laba maksimum.

Dalam kenyataannya, terjadi harga ditentukan oleh penjual dan pembeli. Sebab makin besar pula kemungkinan bagi penjual mempunyai harapan mendapatkan keuntungan yang maksimal.

b.       Mencegah atau mengurangi persaingan.

Dapat dilakukan melalui kebijakan harga. Harga ini dapat diketahui bagaimana penjual menawarkan barang dengan harga yang sama. Oleh karena itu persaingannya hanya mungkin dilakukan tanpa melalui kebijakan harga, tetapi melalui servis lain.

c.       Memperbaiki atau mempertahankan pangsa pasar.

Memperbaiki pangsa pasar dilakukan bila kemampuan di bidang lain seperti di bidang pemasaran, keuangan, dan sebagainya. Dalam hal ini harga merupakan faktor yang penting bagi perusahaan kecil dengan kemampuan terbatas. Kemampuan harga ditujukan hanya sekadar untuk mempertahankan market share. Prosedur Penetapan Harga Menurut Basu Swastha (1993:150) ada lima tahap yaitu: a. Mengantisipasi permintaan untuk produk tersebut.

b.       Mengetahui lebih dahulu reaksi dalam persaingan.

c.       Menentukan market share yang ditentukan.

d.      Memilih strategi harga untuk mencapai target pasar.

e.       Mempertimbangkan politik pemasaran perusahaan.

3.         Product (Produk)

Menentukan produk/jasa yang akan ditawarkan ke pasar umumnya menjadi langkah

paling awal. Ide mengenai produk bisa didapatkan dari beberapa sumber. Cara termudah adalah dengan membandingkan langsung produk sejenis seperti yang ingin dijual, serta melakukan riset kecil-kecilan ke target pasar mengenai kelebihan dan kekurangan dari produk tersebut. Hasil dari riset tersebut diharapkan memberikan informasi yang lebih akurat bagi wirausaha mengenai prospek pasar yang akan dimasukinya dan produk macam mana yang diharapkan oleh target pasar.

Melihat banyaknya produk yang beredar di pasar maka keberhasilan bisnis ritel tergantung dari variasi produk yang dihadirkan atau penyediaan produk yang mungkin hanya tersedia di bisnis yang dipilih. Mengembangkan merek-merek berlabel (juga disebut merek-merek toko) yang merupakan produk-produk yang dikembangkan dan dipasarkan oleh pelaku bisnis ritel dan hanya tersedia dari tempat bisnis ritel tersebut.

4.         Promotion (Promosi)

Aspek penting lainnya adalah mengenai promosi dari produk. Bagaimana suatu produk akan dikenalkan ke pasar agar pelanggan tergerak untuk membelinya. Salah satu cara berpromosi efektif adalah dengan beriklan. Bagi wirausaha yang baru memulai bisnis, iklan dilakukan dengan mempertimbangkan efektivitas dan efisiensinya. Untuk mendapatkan efektivitas beriklan sebaiknya dilakukan pemilihan media iklan yang benar-benar cocok dengan karakter target pasar dari produk. Mungkin tidak diperlukan untuk memasang iklan di segala media/tempat karena belum tentu berpengaruh kepada peningkatan penjualan.

Selain itu, pemasangan iklan juga berhubungan dengan biaya yang dikeluarkan. Pada tahap-tahap awal memulai bisnis, sebaiknya masalah biaya mendapat perhatian  khusus agar tidak menjadi ganjalan dalam operasional usaha. Tentukan juga tujuan  dari promosi, apakah untuk menciptakan kesadaran merek atau dimaksudkan untuk meningkatkan penjualan. Jangan lupa untuk mengukur hasil dari setiap kegiatan promosi yang dilakukan, apakah sesuai dengan harapan atau masih perlu perbaikan untuk kegiatan promosi berikutnya.

Dari semua uraian di atas bisa diambil sebuah kesimpulan bahwa Place, Price, Product, dan Promotion merupakan faktor yang tidak bisa dipisahkan dalam mengembangkan usaha bisnis retail karena gabungan antara keempat faktor tersebut bisa jadi menentukan keberhasilan ataupun gagalnya usaha ritel.

 

 

E. Sumber Daya Manusia dalam Bisnis Ritel

1.                    Manajemen Sumber Daya Manusia

Manajemen Sumber Daya Manusia merupakan bidang manajemen yang berfokus pada pengelolaan Sumber Daya Manusia dengan seefektif mungkin agar diperoleh suatu kesatuan tenaga kerja yang memuaskan. Manajemen sumber daya manusia sangat penting dalam bisnis ritel, sebab setiap karyawan memainkan peran atau bagian yang penting dalam melaksanakan fungsi pekerjaan dengan baik. Manajemen sumber daya dalam bisnis ritel adalah upaya untuk mengelola sumber daya manusia (SDM) ritel serta hubungannya dengan pelanggan dan kultur tentang ritel hingga menjadi manfaat kompetitif yang mendukung.

Berbagai posisi karier yang bisa kita temukan dalam sebuah bisnis ritel, antara lain; pemilik ritel, pengelola ritel, pramuniaga, kasir, kepala gudang, customer service, security, pemasok barang dagangan, manajer keuangan, dan sebagainya. Pendekatan- pendekatan yang secara  umum  digunakan  untuk  memotivasi  dan  mengoordinasikan aktivitas karyawan, dan manajemen praktis untuk membangun kekuatan kerja secara efektif dan mengurangi tingkat perputaran karyawan. Semua aktivitas tersebut dilakukan untuk menerapkan strategi sumber daya, perencanaan sumber daya, termasuk dalam merekrut, menyeleksi, melatih, mengawasi, mengevaluasi, dan membagi kompensasi penjualan, yang dikerjakan hanya oleh manajemen.

Pengelolaan sumber daya manusia dalam ritel sangat menantang, karena pada dasarnya bisnis ritel sangat berbeda dengan bisnis atau perusahaan pada umumnya. Ada beberapa ciri yang dapat dijadikan pembeda yaitu:

a.       Jam kerja karyawan berbeda dengan perusahaan pada umumnya. Jam buka toko yang paling panjang membuat perusahaan harus membagi pekerjaan dengan sistem shift. Toko buka 7 hari dalam seminggu dan akan ramai pada hari-hari libur, membutuhkan komitmen yang tinggi dari karyawan yang harus membuka tokonya selama 24 jam. Misalnya pada akhir pekan atau menjelang hari raya/ besar sehingga harus menambah shift kerja dan karyawan.

b.       Penekanan terhadap kontrol biaya. Kontribusi biaya karyawan cukup besar pada total biaya toko keseluruhan. Sehingga perlu sangat hati-hati dalam merinci secara tepat kebutuhan karyawan yang efisien sesuai dengan tingkat keahliannya masingmasing.

c.       Perubahan demografis pekerja. Peritel besar yang beroperasi secara nasional dan internasional akan menghadapi tantangan mengenai perubahan pola demografis karyawan. Hal ini akan berpengaruh besar terhadap kinerja kerja dan kualitas pelayanan dan penjualan.

Dalam pelaksanaan dan pengelolaan sumber daya manusia memerlukan perencanaan yang matang, hal ini didasarkan pada beberapa karakter yang harus dimiliki oleh para karyawan/pelaku ritel, di antaranya adalah:

a.       Memiliki keterampilan analisis. Kemampuan menyelesaikan masalah dan memiliki kemampuan numerik untuk menganalisis fakta dan data bagi perencanaan, pengelolaan, dan pengawasan.

b.      
Memiliki kreativitas. Mampu untuk menghasikan ide-ide dan solusi yang imajinatif, cepat mengenali kebutuhan konsumen serta mampu bertindak dan


mengantisipasi perubahan.

c.       Mampu mengambil keputusan yang cepat dan tepat.

d.      Fleksibel. Mampu berlaku fleksibel terhadap kejadian sehari-hari agar mampu mengakomodasi perubahan tren, gaya, serta sikap pelanggan.

e.       Inisiatif. Kemampuan melakukan sesuatu yang dirasa perlu tanpa disuruh.

f.        Leadership. Hormat kepada keputusan, mampu mendelegasikan dan memberikan panduan kepada orang lain.

g.      Mampu mengorganisasikan pekerjaan dan menentukan prioritas.

h.      Berani mengambil risiko dengan pertimbangan, analisis yang akurat dan bertanggung jawab.

Dalam pengelolaan sumber daya manusia, memerlukan tahapan yang harus dilakukan:

a.  Rekrutmen

Merupakan gerbang awal yang menentukan. Contoh pada Indomaret: Rekrutmen dimulai dari penentuan berbagai kriteria SDM yang dibutuhkan, lalu mempublikasikannya di situs resmi Indomaret dan juga di media massa cetak, demi mendapatkan calon karyawan yang tepat dan handal.

b.       Orientasi

Setiap organisasi memiliki budaya, suasana, prinsip kerja, dan nilai-nilai yang berbeda. Pada tahap ini diperkenalkan mengenai perusahaan, posisi perusahaan, personel perusahaan, hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan, pekerjaan dan alur pekerjaan secara rinci.

Contoh pada Indomaret: Orientasi dilakukan pada masa awal training agar calon peserta training paham tentang prinsip kerja dan nilai-nilai yang ada di dalam perusahaan.

c.       Pelatihan

Pelatihan sangat diperlukan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan karyawan sehingga dapat terjadi peningkatan kinerja.

Ada 2 (dua) macam pelatihan:

1)         Pelatihan keterampilan teknis

Keterampilan yang diberikan untuk tampil melakukan suatu pekerjaan. Seperti keterampilan komputer dalam penggunaan cash register pada kasir dan lainlain.

2)         Pelatihan antarpribadi

Pelatihan keterampilan berhubungan dengan sesama karyawan, atasan, bawahan, mitra perusahaan, atau pelanggan.

Contoh pada Indomaret: Pelatihan pada Indomaret memiliki beberapa perbedaan tergantung kepada jenis bidang kerja. Namun secara umum, pelatihan dilakukan selama tiga bulan penuh di lokasi kerja. Penempatan Tahap di mana karyawan yang telah dinilai layak diterima akan ditempatkan kerjanya sesuai divisi yang dibutuhkan. Contoh pada Indomaret: Setelah calon SDM mampu melewati masa training dengan baik maka ia akan dipilih dan ditempatkan sesuai dengan bidang pekerjaan yang akan dimasukinya. Untuk karyawan Indomaret yang masih baru, mereka akan langsung dikontrak untuk tiga bulan ke depan.

d.      Pemberdayaan


Mendelegasikan pekerjaan kepada bawahan dengan pengawasan.

Contoh pada Indomaret: Karyawan yang telah melewati masa training (misalnya kasir) biasanya akan tetap dibimbing oleh senior/supervisor-nya selama seminggu. Setelah dia dinilai cukup mahir dan terampil dalam melakukan tugasnya maka intensitas bimbingan terhadapnya akan dikurangi, tapi tidak terlepas dari pengawasan senior/supervisor.

e.       Continous Improvement

Setiap hari harus menjadi lebih baik dari hari kemarin.

Contoh pada Indomaret: Dua kali dalam sebulan, kesatuan tim dari pusat datang untuk mengontrol seluruh kegiatan fungsional SDM yang ada di Indomaret. Kontrol ini bertujuan untuk memantau dan menjaga kestabilan kinerja SDM agar terus-menerus menjadi lebih baik. Apabila ditemukan kesalahan/kinerja SDM tidak sesuai dengan standar kerja maka kesatuan tim pusat akan melaporkan kepada SM yang akan ditindaklanjuti oleh SM itu sendiri, karena itu adalah wewenang SM atas karyawan.

2.                    Struktur Organisasi pada Bisnis Ritel

Struktur organisasi dalam pengelolaan bisnis ritel harus mampu mengidentifikasi aktivitas yang dilakukan karyawan dan menentukan garis otoritas dan tanggung jawabnya dalam perusahaan. Struktur organisasi dimulai dengan cara menentukan dahulu semua tugas yang ada, setelah diidentifikasi, dikelompokan dalam bentuk bidang kerja dan ditentukan pula hubungan timbal baliknya. Struktur organisasi ritel tidak harus selalu baku untuk setiap perusahaan ritel, struktur organisasi dapat berbeda antara peritel disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

Berbagai pilihan struktur organisasi adalah sebagai berikut:

1)      Struktur organisasi fungsional

Struktur organisasi ini disusun berdasarkan fungsi yang dijalankan masing-masing departemen.

2)      Struktur organisasi berdasarkan produk

Struktur organisasi yang disusun berdasarkan barang yang dijual dalam ritel.

3)      Struktur organisasi berdasarkan geografis

Struktur organisasi ini adalah struktur organisasi yang disusun berdasarkan wilayah geografis yang dilayani ritel.

4)      Struktur organisasi kombinasi

Struktur organisasi yang disusun dalam bentuk kombinasi antara fungsional, geografis, maupun barang dagangan yang dijual.

Adapun tugas dan tanggung jawab unit fungsional masing-masing pelaku bisnis ritel di Indomaret adalah sebagai berikut:

1.       SM (Store Manager)

a)         Berwenang dalam memantau seluruh unit fungsional yang ada di Indomaret.

b)         Menjalankan operasional Indomaret yang dipimpinnya setiap hari. Mengembangkan outlet yang dipimpin dengan efektif dan efisien secara konsisten termasuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

c)         Menjalankan strategi penjualan untuk mencapai target-target yang ditetapkan oleh perusahaan (Sales Growth) misalnya :


1)               Menjaga kualitas produk dan pelayanan yang konsisten.

2)                    Mengaktifkan program promosi: Misalnya secara mingguan, SM akan mengumumkan program “belanja minimal 100 ribu, berhadiah Sania 2 liter”. Program lain misalnya pemberian potongan harga dari total belanja (sesuai dengan jenis produk tertentu) untuk member Indomaret mulai dari hari Kamis sampai Minggu.

d)        Mengevaluasi setiap personil yang dibawahi oleh Store Manager itu sendiri.

e)         Mengontrol dan mengevaluasi Management Outlet (Operasi, Inventory, Keuangan) yang dibawahi agar berjalan secara efektif dan efisien khususnya masalah-masalah yang berkaitan dengan sistem dan prosedur kerja serta sistem pelaporannya.

f)          Menganalisis dan mengantisipasi setiap perkembangan/kecenderungan pasar yang dibawahi yang berdampak pada Sales Growth dan melakukan/membuat usulan langkah perbaikan untuk mengantisipasi setiap perkembangan yang ada.

g)        Mengevaluasi seluruh hasil yang dicapai secara periodik dan menyusun rencana kerja serta target-target yang hendak dicapai untuk memperbaiki kekurangan maupun untuk mempertahankan hasil yang telah dicapai.

2.       ASM (Assistant Store Manager) berwenang dalam membantu tugas SM, menggantikan tugas SM untuk waktu tertentu (sementara).

3.       Divisi lapangan yang dikepalai Field Supervisor/Supervisor Lapangan. Field Supervisor memantau kinerja unit yang ada di bawahnya, yaitu:

a)         Stockist: menyusun, menyortir, dan menempatkan barang yang dijual (dengan catatan bahwa barang/merchandise yang ada di stan jangan sampai kosong).

b)         Pramuniaga: membantu stockist dalam menjalankan tugasnya, selalu bersiap (stand by) di pos/corner-nya masing-masing, merapikan susunan barang dan menjaga barang yang dijual

c)         PU (Pembantu Umum): bertugas untuk membantu segala keperluan karyawan lain yang memang ditugaskan tidak boleh keluar dari lokasi ritel Indomaret. Misalnya membeli makan siang, minum, dan lain-lain.

d)        Security: menjaga keamanan dan ketertiban dan harus siap sedia di pintu masuk/keluar lokasi Indomaret.

4.       Divisi Kasir yang dikepalai Cashier Supervisor (CSPV)/Supervisor kasir. Cashier Supervisor memantau kinerja unit yang ada di bawahnya, yaitu:

a)         Kasir (Cashier): menerima pembayaran atas belanja konsumen.

b)         Customer Service: berjaga di tempat penitipan barang untuk melayani konsumen maupun karyawan Indomaret. Misalnya tas (kantungan), paying, ataupun barang lainnya. Selain itu juga memberikan pengumuman khusus melalui microphone yang ditujukan kepada pihak-pihak tertentu.

c)         Lansir: merapikan troli, mengantarkan barang konsumen, dan membantu kasir dalam memasukkan barang belanjaan ke dalam kantung plastik belanja.

5.       Divisi Gudang yang dikepalai Supervisor Gudang bertugas untuk melakukan pencatatan dan mengontrol jumlah barang di gudang, mencocokkan jumlah

barang secara fisik dan data, serta memantau unit kerja di bawahnya, seperti: a)  Labelling: melabel barang-barang yang baru masuk.

b)        Sticker: menempelkan stiker pada barang yang telah diberi label.

c)        Admin Entry Data/AED: urusan administrasi barang.

6.       Divisi Keuangan yang dikepalai Finance Manager/Manajer keuangan bertugas untuk mengelola keuangan Indomaret, termasuk pada penyusunan laporan keuangan selama satu periode, dan membuat laporan keuangannya. Selain sumber daya manusia yang ada di atas, Indomaret juga memiliki SDM dari luar perusahaan yang juga bersifat membantu kelangsungan usaha, yaitu:

a)         Supplier: Supplier yang datang ke Indomaret jumlahnya banyak bahkan bisa mencapai 25 supplier dalam sehari. Mereka memasok setiap jenis barang tersedia di Indomaret. Misalnya Unilever, P&G, Sari Roti, Golden Ginger, dan lain-lain.

b)         SPG: merupakan karyawan berasal dari supplier yang ditugaskan untuk memasarkan produknya. Ada dua jenis SPG di Indomaret, yaitu SPG stay, dan mobile (ikut mempromosi barangnya).

3.       Memotivasi Karyawan Ritel

Ritel umumnya menggunakan tiga metode untuk memotivasi aktivitas karyawannya, yaitu:

1)      Kebijakan tertulis dan pengawasan karyawan.

Hal ini adalah metode koordinasi yang paling mendasar karena dapat dijadikan indikasi dan petunjuk bagi karyawan mengenai apa yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan.

2)      Insentif

Insentif biasa dipergunakan peritel untuk memotivasi karyawan dalam melaksanakan aktivitas yang konsisten dengan sasaran penjualan.

Terdapat 2 (dua) jenis insentif, yaitu:

a)         Komisi

Kompensasi yang didasarkan pada rumusan yang telah ditetapkan perusahaan.

Contoh: komisi di Indomaret telah diberikan sesuai dengan spesifikasi kerja, apabila ada karyawan yang lembur harus melaporkannya terlebih dahulu kepada SM/ASM.

b)         Bonus

Kompensasi tambahan yang diberikan secara periodik berdasarkan evaluasi kerja karyawan.

Contoh: bonus diberikan sesuai dengan hari besar keagamaan. Misalnya pada saat menjelang hari raya Idul Fitri, karyawan yang muslim akan mendapatkan THR. Sementara karyawan yang nonmuslim (kristen) akan mendapatkan bonus hari Natal.

3)      Budaya organisasi

Memotivasi dan mengoordinasi karyawan bertujuan untuk mengembangkan budaya organisasi kuat. Satuan nilai-nilai, tradisi, kebiasaan dalam suatu perusahaan yang mendasari perilaku karyawan atau organisasi, seperti menghargai setiap karyawan, mau mendengarkan bawahan, dan lain-lain. Contoh pada Indomaret: budaya yang kuat terlihat dari kebijakkan Indomaret  adalah kerja yang tangkas, bersih, ramah, dan disiplin.

Tantangan utama dalam penjualan eceran adalah untuk mengurangi tingkat keluar masuk karyawan. Perputaran karyawan yang tinggi akan mengurangi penjualan (karena kurang berpengalaman, kurang pengetahuan akan barang, dan kebijakan perusahaan sehingga tidak mampu berinteraksi secara efektif dengan konsumen) dan meningkat biaya (rekrutmen dan pelatihan membutuhkan biaya). Beberapa pendekatan yang dilakukan oleh ritel untuk membangun komitmen timbal balik adalah:

a)         Meningkatkan keterampilan.

b)         Memberdayakan karyawan.

c)         Menciptakan hubungan kemitraan dalam karyawan.

Terdapat tiga aktivitas manajemen sumber daya manusia yang dapat membangun dan mengembangkan komitmen karyawan melalui hubungan kemitraan:

(1)  Mengurangi perbedaan status antarkaryawan.

(2)  Memberikan peluang promosi untuk karyawan lama.

(3) Diberlakukan flextime (sistem penjadwalan pekerjaan yang memungkinkan karyawan memilih waktu kerja) dan job sharing (dua karyawan secara sukarela bertanggung jawab atas satu pekerjaan.

Pada Indomaret, setiap karyawan dibimbing agar mampu saling bekerja sama dalam melakukan berbagai kegiatan. Misalnya penempatan dan penyusunan barang pada rak merupakan tugas seorang stockist. Namun apabila ada konsumen yang mengambil kemudian mengembalikannya sehingga tidak tersusun seperti kondisi semula maka pramuniaga yang sedang stand by akan membantu untuk menyusunnya dengan rapi kembali.

 TUGASNYA :     Meringkas materi diatas dibuku tulis kemudian difoto kirim ke     https://forms.gle/JAbqtrMmnJjaLGAaA

Komentar

Postingan populer dari blog ini

E.Proses Keputusan Pembelian Konsumen

bab 4 sistem informasi ritel

latihan soal