Materi bisnis ritel xi
C. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Keberhasilan Usaha Ritel
Ada tiga faktor yang dapat mendorong usaha ritel
berhasil, antara lain sebagai berikut.
1.
Lokasi Usaha
Faktor utama yang
harus diperhatikan dalam memulai ataupun mengembangkan usaha ritel adalah
faktor lokasi. Panduan dalam memilih lokasi usaha ritel yang baik menurut
Guswai (2009) adalah sebagai berikut.
a.
Terlihat (visible). Lokasi usaha ritel yang baik
adalah harus terlihat oleh banyak orang yang lalu lalang di lokasi tersebut.
b.
Lalu lintas yang padat
(heavy traffic). Semakin banyak
lokasi usaha ritel dilalui orang maka semakin banyak orang yang tahu mengenai
usaha ritel tersebut.
c.
Arah pulang ke rumah
(direction to home). Pada umumnya,
pelanggan berbelanja di suatu toko ritel pada saat pulang ke rumah. Sangat
jarang orang berbelanja pada saat akan berangkat kerja.
d.
Fasilitas umum (public facilities). Lokasi usaha ritel
yang baik adalah dekat dengan fasilitas umum seperti terminal angkutan umum,
pasar, atau stasiun kereta. Fasilitas umum tersebut bisa menjadi pendorong bagi
sumber lalu lalang calon pembeli/ pelanggan untuk kemudian berbelanja di toko
ritel. Hal ini disebut dengan impulsive
buying atau pembelian yang tidak direncanakan.
e.
Biaya akuisisi (acquisition cost). Biaya merupakan hal
yang harus dipertimbangkan dalam berbagai jenis usaha. Peritel harus memutuskan
apakah akan membeli suatu lahan atau menyewa suatu lokasi tertentu. Peritel
hendaknya melakukan studi kelayakan dari sisi keuangan untuk memutuskan suatu
lokasi usaha ritel tertentu.
f.
Peraturan/perizinan (regulation). Dalam menentukan suatu
lokasi usaha ritel harus juga mempertimbangkan peraturan yang berlaku.
Hendaknya peritel tidak menempatkan usahanya pada lokasi yang memang tidak
diperuntukan untuk usaha, seperti taman kota dan bantaran sungai.
g.
Akses (access). Akses merupakan jalan masuk dan
keluar menuju lokasi. Akses yang baik haruslah memudahkan calon
pembeli/pelanggan untuk sampai ke suatu usaha ritel. Jenis-jenis hambatan akses
bisa berupa perubahan arus lalu lintas atau halangan langsung ke lokasi toko,
seperti pembatas jalan.
h.
Infrastruktur (infrastructure). Infrastruktur yang
dapat menunjang keberadaan suatu usaha ritel, antara lain lahan parkir yang
memadai, toilet, dan lampu penerangan. Hal tersebut dapat menunjang kenyamanan
pelanggan dalam mengunjungi suatu toko ritel.
i.
Potensi pasar yang
tersedia (captive market). Pelanggan
biasanya akan memilih lokasi belanja yang dekat dengan kediamannya. Menetapkan
lokasi usaha ritel yang dekat dengan pelanggan akan meringankan usaha peritel
dalam mencari pelanggan.
j.
Legalitas (legality). Untuk memutuskan apakah
membeli atau menyewa sebuah lokasi untuk menempatkan usaha, peritel harus
memastikan bahwa lokasi tersebut tidak sedang memiliki masalah hukum
(sengketa). Segala perjanjian jual beli maupun sewa-menyewa hendaknya dilakukan
di hadapan notaris. Pihak
notaris
akan memeriksa kelengkapan dokumen sebelum melakukan pengesahan jual beli
ataupun sewa-menyewa.
Kesalahan dalam
menentukan lokasi usaha ritel dapat memiliki dampak jangka panjang. Peritel
harus mempertimbangkan biaya yang sudah dikeluarkan ketika menjalankan usaha
ritel seperti pemasangan listrik, jaringan sistem komputer, dan dekorasi
bangunan. Memindahkan bisnis ke lokasi yang baru yang dinilai akan lebih
menguntungkan juga bukan hal yang mudah karena harus mempertimbangkan barbagai
hal, seperti luas ruangan yang dibutuhkan, dekorasi ruangan, perizinan, dan
lain sebagainya.
2.
Harga yang Tepat
Usaha ritel
biasanya menjual produk-produk yang biasa dibeli/dikonsumsi pelanggan sehari-hari.
Oleh karena itu, pelanggan bisa mengontrol harga dengan baik. Jika suatu toko
menjual produk dengan harga yang tinggi maka pelanggan akan pindah ke toko lain
yang menawarkan harga yang lebih rendah, sehingga toko menjadi sepi pelanggan.
Sebaliknya, penetapan harga yang terlalu murah mengakibatkan minimnya keuntungan yang akan diperoleh,
sehingga peritel belum tentu mampu menutup biaya-biaya yang timbul dalam
menjalankan usahanya.
3.
Suasana Toko
Suasana toko yang
sesuai bisa mendorong pelanggan untuk datang dan berlama-lama di dalam toko,
seperti memasang alunan musik ataupun mengatur tata cahaya toko. Ada dua hal
yang perlu diperhatikan untuk menciptakan suasana toko yang menyenangkan, yaitu
eksterior toko dan interior toko.
a.
Eksterior toko,
meliputi keseluruhan bangunan fisik yang bisa dilihat dari bentuk bangunan,
pintu masuk, tangga, dinding, jendela, dan sebagainya. Eksterior toko berperan
dalam mengomunikasikan informasi tentang apa yang ada di dalam gedung, serta
dapat membentuk citra terhadap keseluruhan tampilan toko.
b.
Interior toko,
meliputi estetika toko, desain ruangan, dan tata letak toko, seperti penempatan
barang, kasir, serta perlengkapan lainnya. Jika pelanggan menangkap eksterior
toko dengan baik maka ia akan termotivasi untuk memasuki toko. Ketika pelanggan
sudah memasuki toko, ia akan memperhatikan interior toko dengan cermat. Jika
pelanggan memiliki persepsi/anggapan yang baik tentang suatu toko maka ia akan
senang dan betah berlama-lama di dalam toko.
c.
Selain eksterior dan
interior toko, faktor penting lainnya yang memengaruhi keberhasilan toko adalah
pramuniaga. Pramuniaga menentukan puas tidaknya pelanggan setelah berkunjung
sehingga terjadi transaksi jual beli di toko tersebut. Pramuniaga yang
berkualitas sangat menunjang kemajuan toko. Pramuniaga sebaiknya mampu menarik
simpati pelanggan dengan segala keramahannya, tegur sapanya, informasi yang
diberikan, cara bicara, dan suasana yang bersahabat.
D. Peran Bisnis Ritel
Selain tren
ekonomi, kebijakan pemerintah dan gaya belanja ternyata industri ritel memiliki
tren-tren tertentu dengan prinsip mencari tahu perkembangan yang ada selama
ini. Di ibukota provinsi ada beberapa daerah yang memilki rubrik khusus tentang
dunia ritel,
misalkan tentang teknologi yang berkaitan dengan produk
yg sedang tren, format toko yang baru, pelayanan pelanggan, internet, delivery, mailing list, dan lain-lain.
Pengelolaan ritel
di Indonesia memang memilki prospek yang baik karena potensi pasarnya yang
sangat besar. Hukum alam selalu ada jika ada ritel yang berkembang dengan cepat
otomatis akan banyak pesaing baru yang bermunculan. Tinggi rendahnya persaingan
akan berpengaruh, mulus tidaknya bisnis ritel yang dijalankan oleh setiap
peritel. Mereka yang memiliki informasi adalah mereka yang akhirnya dapat
menjadi pemenangnya sehingga bisnisnya tetap dapat berjalan. Dalam suatu channel distribusi, retailing memainkan
suatu peranan penting sebagai penengah antara para produsen, agen, dan para
konsumen akhir.
Retailer
mengumpulkan berbagai jenis barang dan jasa dari berbagai sumber dan
menawarkannya kepada konsumen. Retailing tidak harus melibatkan suatu toko. Mail order atau telepon order, penjualan
langsung ke konsumen di rumah-rumah dan kantor, mesinmesin penjaja termasuk
dalam scope retailing.
Bisnis Retail
merupakan salah satu bisnis yang tumbuh cukup baik di seluruh dunia terutama di
negara-negara berkembang seperti Indonesia. Jumlah penduduk yang cukup banyak
menunjang perputaran uang yang tinggi terutama untuk kebutuhan konsumsi.
Produsen menjual produknya kepada grosir (wholesaler).
Kemudian grosir menjualnya kepada pedagang eceran/ritel (pengecer/peritel).
Pengecer/peritel adalah orang-orang atau toko yang kegiatan utamanya
mengecerkan barang. Pemasaran ritel ini sangat penting artinya bagi produsen
karena melalui usaha ritel, produsen dapat memperoleh informasi berharga
mengenai produknya. Produsen dapat mewawancarai peritel mengenai pendapat
konsumen mengenai bentuk, rasa, daya tahan, harga, dan segala sesuatu mengenai
produknya. Selain itu juga dapat diketahui mengenai kondisi perusahaan pesaing.
Produsen dan peritel dapat menjalin kerja sama yang saling menguntungkan.
Produsen dapat memasang iklan, mengadakan undian, atau memberi hadiah kepada
konsumen melalui toko-toko peritel. Kadang kala ada produsen yang langsung
memberikan bonus kepada peritel.

( sumber:www.google.com )
Usaha ritel memberikan kegunaan bagi pelanggan melalui
lima cara, antara lain:
a.
Memberikan
suplai/pasokan barang dan jasa pada saat dan ketika dibutuhkan
konsumen/pelanggan dengan sedikit atau tanpa penundaan. Usaha ritel biasanya
berlokasi di dekat rumah pelanggan, sehingga pelanggan bisa dengan segera
mendapatkan suatu produk tanpa perlu menunggu
lama.
b.
Memudahkan
konsumen/pelanggan dalam memilih atau membandingkan bentuk, kualitas, dan
barang serta jasa yang ditawarkan. Pelanggan mungkin hanya ingin lebih dari
sekedar mendapatkan barang yang diinginkan pada tempat yang nyaman. Mereka
hampir ingin selalu belanja di mana bisa mendapatkan kemudahan memilih,
membandingkan kualitas, bentuk, dan harga dari produk yang diinginkan. Dalam
menarik
dan memuaskan pelanggan, para peritel biasanya akan berusaha menciptakan
suasana belanja yang nyaman.
c.
Menjaga harga jual tetap rendah agar
mampu bersaing dalam memuaskan pelanggan.
d.
Membantu meningkatkan
standar hidup masyarakat. Produk yang dijual dalam usaha ritel, tergantung pada
apa yang dibeli dan dikonsumsi oleh masyarakat. Upaya promosi yang dilakukan,
tidak hanya memberikan informasi kepada masyarakat mengenai beragam produk
barang dan jasa, tetapi juga dapat meningkatkan keinginan pelanggan untuk membeli.
Hasil akhirnya adalah peningkatan standar hidup dan penjualan produk.
e.
Adanya usaha ritel
juga memungkinkan dilakukannya produksi besar-besaran (produksi massal).
Produksi massal tidak akan dapat dilakukan tanpa sistem pengecer yang efektif
dalam mendistribusikan produk yang dibuat secara massal bagi pelanggan. Peran
ritel dalam kehidupan perekonomian secara keseluruhan, yaitu sebagai pihak
akhir (final link) dalam suatu rantai
produksi, yang dimulai dari pengolahan bahan baku, sampai dengan distribusi barang
(dan jasa) ke konsumen akhir.
Usaha eceran atau
usaha ritel mempunyai peran yang sangat penting baik ditinjau dari pihak
konsumen atau dari pihak produsen.
Dari
Pihak Produsen:
1)
Peritel dipandang sebagai pihak yang
ahli dalam bidang penjualan produk perusahaan.
2)
Peritel adalah ujung
tombak perusahaan yang akan sangat menentukan laku tidaknya produk perusahaan.
3)
Peritel adalah sumber informasi yang
sangat berharga mengenai produknya.
4)
Produsen dapat
memasang iklan, mengadakan undian, atau memberi hadiah kepada konsumen melalui
toko-toko ritel.
Dari
Pihak Konsumen:
Usaha
ritel memberikan kebutuhan ekonomis bagi pelanggan melalui lima cara, antara
lain:
1)
Usaha ritel biasanya
berlokasi di dekat rumah pelanggan, sehingga pelanggan bisa dengan segera
mendapatkan suatu produk tanpa perlu menunggu
lama.
2)
Memudahkan
konsumen/pelanggan dalam memilih atau membandingkan bentuk, kualitas, serta
barang dan jasa yang ditawarkan. Pelanggan mungkin hanya ingin lebih dari
sekadar mendapatkan barang yang diinginkan pada tempat yang nyaman. Mereka
hampir ingin selalu belanja di mana bisa mendapatkan kemudahan memilih,
membandingkan kualitas, bentuk, dan harga dari produk yang diinginkan. Dalam
menarik dan memuaskan pelanggan, para peritel biasanya akan berusaha
menciptakan suasana belanja yang nyaman.
3)
Menjaga harga jual tetap rendah agar
mampu bersaing dalam memuaskan pelanggan.
4)
Membantu meningkatkan standar hidup masyarakat.
Produk yang
dijual dalam usaha ritel, tergantung pada apa yang dibeli dan dikonsumsi oleh
masyarakat. Upaya promosi yang dilakukan, tidak hanya memberikan informasi
kepada masyarakat mengenai beragam produk barang dan jasa, tetapi juga dapat
meningkatkan keinginan pelanggan untuk membeli. Hasil akhirnya adalah
peningkatan standar hidup dan penjualan produk.
5)
Adanya usaha ritel
juga memungkinkan dilakukannya produksi besar-besaran (produksi massal).
Produksi massal tidak akan dapat dilakukan tanpa sistem pengecer yang
efektif
dalam mendistribusikan produk yang dibuat secara massal bagi pelanggan.
Peran ritel dalam
kehidupan perekonomian secara keseluruhan, yaitu sebagai pihak akhir (final link) dalam suatu rantai produksi,
yang dimulai dari pengolahan bahan baku, sampai dengan distribusi barang (dan
jasa) ke konsumen akhir.
Industri Ritel
memegang peranan penting dalam perekonomian suatu negara, terutama berkaitan
dengan proses distribusi berbagai macam produk yang dibutuhkan oleh masyarakat,
antara lain:
1)
Melakukan kegiatan usaha di lokasi
yang nyaman dan mudah diakses oleh pelanggan.
2) Memberikan keragaman
produk sehingga memungkinkan pelanggan bisa memilih produk yang diinginkan.
3)
Memecah atau membagi
jumlah dan ukuran produk yang besar sehingga dapat dijual dalam kemasan/ukuran
yang kecil.
4)
Mengubah produk menjadi bentuk yang
lebih menarik.
5)
Menyimpan produk agar tetap tersedia
pada harga yang relatif tetap.
6)
Membantu terjadinya perpindahan barang
melalui sistem distribusi.
7)
Memberikan jaminan
produk layanan purnajual dan turut menangani keluhan pelanggan.
8)
Ada kalanya memberikan fasilitas
kredit dan sewa.
Meningkatkan nilai produk.
E. Strategi
Ritel
Istilah strategi
juga sering digunakan dalam bisnis ritel, seperti strategi merchandise, strategi lokasi, strategi promosi, ataupun strategi
penetapan merek yang dikeluarkan oleh pihak ritel itu sendiri (private label). Strategi tersebut
memengaruhi keputusan ritel terutama pengambilan keputusan yang strategis.
Menurut Berman dan Evans (2007, p12), strategi ritel adalah keseluruhan rencana
atau kerangka kerja yang memandu actions dari
peritel. Strategi ritel idealnya hanya bertahan selama satu tahun.
Setiap peritel,
tanpa melihat bentuk atau jenis ritel tersebut harus menggunakan enam langkah
perencanaan strategi sebagai berikut:
1)
Menentukan jenis
bisnis yang berkenaan dengan kategori barang atau jasa dan orientasi khusus
perusahaan tersebut (seperti full service).
2)
Menentukan tujuan
jangka panjang dan pendek untuk sales dan
profit, pangsa pasar, citra, dan
sebagainya.
3)
Menentukan target pasar berdasarkan
karakteristik (seperti jenis kelamin dan level
pendapatan)
dan kebutuhan konsumen.
4)
Merancang rencana
jangka panjang, keseluruhan yang memberikan arahan umum untuk perusahaan.
5)
Mengimplementasikan
strategi integral yang menggabungkan faktor-faktor seperti lokasi toko, product assortment, harga, iklan, dan
etalase untuk mencapai tujuan.
6)
Secara teratur
mengevaluasi kinerja dan memperbaiki kelemahan atau masalah- masalah ketika
diobservasi.
![]()

(
sumber: www.google.com )
Menurut Utami
(2006, p56), strategi ritel adalah pernyataan yang menjelaskan beberapa hal
berikut ini:
1)
Pasar sasaran (target market), yaitu segmen-segmen
pasar yang direncanakan untuk dilayani terkait dengan aktivitas memfokuskan
sumber daya yang harus disiapkan oleh ritel.
2)
Format yang
direncanakan akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan target pasar. Format ritel
adalah gabungan ritel yang didasarkan pada sifat atau ciri barang dan jasa yang
ditawarkan, kebijakan penentuan harga, pemasangan iklan dan program promosi,
desain toko, dan lokasi khusus.
3)
Dasar perencanaan
ritel adalah untuk memperoleh keuntungan bersaing yang dapat dipertahankan (sustainable competitive advantage) atau
keuntungan dari persaingan yang dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Dengan demikian, tiap strategi ritel akan meliputi:
a.
Pemilihan segmen target pasar dan
penentuan format ritel.
b. Pengembangan
keunggulan bersaing yang memungkinkan ritel untuk mengurangi tingkat kompetensi
yang dihadapi. Strategi ritel dapat mengembangkan keunggulan bersaing yang
memungkinkan ritel untuk mengurangi tingkat kompetensi yang dihadapi.
F. Pemilihan
Lokasi
Menurut Jiaqin Yan
dan Huei Lee (1997) keputusan pemilihan lokasi meliputi organisasi perusahaan
untuk menemukan lokasi, memindahkan lokasi, atau memperluas operasi perusahaan.
Proses pengambilan keputusan fasilitas lokasi antara lain identifikasi,
analisis, evaluasi, dan seleksi alternatif yang ada. Gudang, toko ritel,
terminal, dan lahan penyimpanan adalah fasilitas khusus untuk pemilihan lokasi.
Pemilihan lokasi biasanya dimulai dengan pengenalan terhadap kebutuhan
kapasitas tambahan. Keputusan ini kemudian dibuat untuk memulai pencarian untuk
lokasi yang terbaik.
Seperti yang telah
diketahui, pemilihan lokasi memiliki implikasi strategi yang sangat penting
untuk operasi lokasi tersebut, karena keputusan lokasi biasanya akan melibatkan
komitmen jangka panjang dari sumber daya dan tidak dapat diubah-ubah. Secara
khusus, pemilihan lokasi mungkin mempunyai pengaruh signifikan terhadap
strategi posisi kompetitif perusahaan dalam hal biaya operasi, kinerja
kecepatan pengiriman, dan fleksibilitas perusahaan untuk bersaing dalam pasar.
Lebih dari 90%
penjualan ritel terjadi di toko. Dengan demikian, pemilihan lokasi toko adalah
salah satu keputusan strategis yang paling signifikan di ritel. Menurut Cox dan
Brittain (2004, p56), lokasi toko harus dipilih agar dapat mencerminkan
kebutuhan kelompok pelanggan yang telah didefinisikan sebelumnya (Berman dan
Evans2007, p262).
Keputusan lokasi sangatlah kompleks, biaya bisa sangat
tinggi, hanya sedikit fleksibilitas sesaat lokasi telah dipilih, dan
atribut-atribut lokasi mempunyai dampak yang besar terhadap strategi. Sehingga,
lokasi ritel yang tepat merupakan faktor penentu bagi keberhasilan peritel.

(
sumber: www.google.com )
Pemilihan lokasi
memerlukan pengambilan keputusan yang panjang karena dalam pemilihan lokasi
terdapat banyak kriteria yang harus dipertimbangkan, seperti ukuran dan
ciri-ciri populasi, persaingan, akses transportasi, ketersediaan parkir,
lingkungan di sekitar toko, biaya properti, lama perjanjian, dan faktor
lainnya. Menurut Utami (2006, p104), hal yang membuat suatu lokasi memiliki
daya tarik secara spesifik adalah aksesibilitas. Aksesibilitas suatu lokasi
adalah suatu kemudahan bagi konsumen untuk masuk dan keluar dari lokasi
tersebut.
Analisis ini memiliki dua tahap, yaitu:
a. Analisis
makro
Untuk mengukur
aksesibilitas lokasi pada tingkat makro, ritel secara bersamaan mengevaluasi
beberapa faktor seperti pola-pola jalan, kondisi jalan, dan hambatannya.
b. Analisis mikro
Analisis ini
berkonsentrasi pada masalah-masalah pada sekitar lokasi, seperti visibilitas,
arus lalu lintas, parkir, keramaian, dan jalan masuk atau jalan keluar.
Berdasarkan
penelitian Yavas (1994), terdapat dua atribut utama dari dimensi lokasi, yaitu:
1)
Lokasi yang mudah dijangkau.
2)
Fasilitas parkir yang luas.
Menurut Engel, Blackwell dan Miniard
(1995) yang dikutip oleh Pujiastuti, terdapat empat atribut utama dari dimensi
location, yaitu:
1)
Waktu tempuh perjalanan menuju tempat berbelanja.
2)
Kelancaran arus lalu lintas.
3)
Banyaknya sarana transportasi yang menunjang.
4)
Lingkungan sekitar yang aman.
G. Investasi
Menurut Downes dan Goudman dalam buku
studi kelayakan proyek karangan Suratman (2001, p6) memberikan pengertian
investasi sebagai berikut: ”..Investment can refer to financial investment (where an investor
puts money into a vehicle) or to an investment of effort and time on the part
of individual who wants to reap profits from
the success of his
labor ..”.
Menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia investasi adalah penanaman modal atau uang di suatu
perusahaan atau proyek untuk tujuan memperoleh keuntungan. Sehingga dapat
disimpulkan investasi adalah pengeluaran yang ditujukan untuk mempertahankan
atau meningkatkan persediaan kapital (capital
stock) yang diharapkan dapat memberikan pengembalian yang menguntungkan di
masa yang akan datang.
Ciri-ciri investasi berdasarkan pendapat Siswanto Sutojo
(2000, p2) adalah:
1)
Investasi tersebut menyerap dan
mengikat dana dalam jumlah besar.
2)
Manfaat yang akan
diperoleh perusahaan (misalnya keuntungan), baru dapat dinikmati sepenuhnya
beberapa masa setelah investasi dilakukan. 3) Tingkat risiko yang ditanggung
perusahaan lebih tinggi.
4) Keputusan
investasi proyek yang keliru, tidak dapat direvisi begitu saja, seperti halnya
keputusan memberikan kredit penjualan kepada pelanggan baru secara tidak tepat,
tanpa harus menderita kerugian yang cukup besar.
Manfaat investasi
adalah untuk meningkatkan jumlah perdagangan ekspor, menciptakan lapangan kerja
baru, dan penghematan pengeluaran devisa (Siswanto Sutojo 2000, p3).
H. Pengertian
Ekspansi
Berdasarkan
pendapat Keown, Scott, Martin, dan Petty (2001, p231) ekspansi dimaksudkan
sebagai perluasan modal, baik perluasan modal kerja saja, atau modal kerja dan
modal tetap, yang digunakan secara tetap dan terus–menerus di dalam
perusahaan.
Bentuk-Bentuk dari Ekspansi
1)
Business expansion atau ekspansi
bisnis adalah ekspansi yang dijalankan tanpa mengakibatkan perubahan struktur
modal. Dalam bentuk ekspansi ini perusahaan tidak menambah modal kerja saja
dengan menggunakan kapasitas produksi yang tersedia di dalam perusahaan. Oleh
karenanya perusahaan tidak menambah aktiva tetap maka tidaklah dibutuhkan
tambahan modal jangka panjang sehingga tidak mengakibatkan perubahan struktur
modalnya. Sering
2)
disebut juga ekspansi
yang berangsur–angsur.
3)
Financial expansion atau ekspansi
keuangan adalah ekspansi yang dijalankan dengan membeli alat produksi tahan
lama, memodernisir alat–alat produksi yang
lama, mendirikan pabrik baru, mengambil alih perusahaan lain, penggabungan
dengan perusahaan lain, dan lain–lain.
Bentuk ekspansi yang membutuhkan tambahan modal jangka panjang, sehingga bentuk
ekspansi ini mengakibatkan perubahan struktur modalnya. Sering disebut ekspansi
yang melonjak.

Keuntungan-keuntungan bagi perusahaan yang mengadakan
ekspansi:
1)
Adanya produksi yang ekonomis:
a.
Makin besar perusahaan
mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk dapat bekerja dengan biaya
produksi rata-rata atau harga pokok yang lebih
rendah.
b.
Penggunaan yang lebih efisien.
c. Adanya stabilitasi
dalam produksi dan makin berkurangnya kerugian-kerugian karena menganggurnya
aktiva-aktiva tetap.
2)
Pembelian dan penjualan yang ekonomis:
a.
Kedudukan terhadap
penjual lebih kuat, sehingga dapat mengadakan pembelian dengan syarat-syarat
yang menguntungkan.
b.
Pembelian dalam
jumlah besar, memungkinkan pembelian dapat dilakukan langsung dari sumbernya.
3)
Manajemen ekonomis
Manajemen merupakan
faktor yang konstan, sedangkan bagian-bagian, pabrik, perusahaan yang
ditambahkan adalah meruapakan faktor-faktor variabel. Ekspansi di sini
dimaksudkan untuk mencapai titik efisiensi manajemen yang optimal atau untuk
mendapatkan keseimbangan yang sebaik-baiknya antara menajemen dengan
faktorfaktor variabel tersebut.
4)
Pembelanjaan yang ekonomis
Makin besarnya perusahaan
memberikan kemungkinan untuk dapat menggunakan modalnya dengan lebih efisien. Apabila
perusahaan menuju kepada laba yang maksimal maka perusahaan akan menambah
modalnya sampai laba yang diperoleh dari modal yang diinvestasikan terakhir
adalah sama dengan tingkat bunga yang
erlaku.
Komentar
Posting Komentar